Kilang Terbesar Libya Terbakar Dihantam Drone, Perusahaan Minyak Ancam Setop Operasi

Kilang minyak dengan cerobong dan kepulan asap pada malam hari

Ilustrasi kompleks kilang minyak. Gambar ini bukan foto kejadian di Kilang Zawiya, Libya. [Foto: Ilustrasi/Pexels]

Cekricek.id — Kebakaran besar melanda kilang minyak Zawiya, kilang terbesar yang masih beroperasi di Libya, setelah fasilitas itu dihantam serangan drone beruntun sejak akhir pekan. Perusahaan minyak nasional negara itu memperingatkan akan menyatakan keadaan kahar dan menghentikan operasi kilang bila serangan tidak berhenti.

Dikutip dari Al Jazeera, Selasa (11/8/2026), National Oil Corporation (NOC) menyatakan api mulai berkobar pada Senin malam di tangki bernomor 402-T milik Brega Oil Company. Tangki itu berisi sekitar 4,5 juta liter bensin ketika terbakar.

“Tangki itu menjadi sasaran langsung, menimbulkan kebakaran hebat sebelum tangkinya runtuh sepenuhnya,” demikian pernyataan NOC yang diunggah lewat Facebook.

Layanan Ambulans dan Gawat Darurat Libya menyatakan pada Selasa tidak ada “luka serius” akibat kebakaran tersebut. Sebagian besar pasien yang ditangani mengalami gangguan akibat menghirup asap. Rekaman yang diverifikasi Al Jazeera memperlihatkan kobaran api besar dan asap hitam pekat membubung di atas kompleks kilang.

Tiga Hari Serangan Beruntun

Kilang Zawiya berjarak sekitar 40 kilometer di sebelah barat Tripoli dan berkapasitas 120.000 barel per hari. Serangan ke tangki bensin bukan yang pertama. NOC menyebut sebelumnya drone menghantam instalasi desalinasi air di kilang yang sama pada Minggu, dan reservoir nafta pada Sabtu.

Beberapa jam setelah pernyataan pertamanya, NOC kembali mengumumkan kilang itu “masih menjadi sasaran serangan sabotase”, kali ini terhadap pabrik pencampuran dan pengisian pelumas yang dioperasikan Zawiya Oil Refining Company. Drone tersebut jatuh di dekat tangki minyak utama dan jaringan pipa yang memasok pelumas untuk pasar dalam negeri, tanpa menimbulkan korban maupun kerusakan.

Belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas rangkaian serangan itu, dan perusahaan tidak menyebut siapa yang mereka duga berada di baliknya. NOC menyatakan keadaan “darurat maksimum” di kawasan tersebut serta mendesak aparat menyelidiki dan mengadili pelakunya.

Ancaman Keadaan Kahar

Ancaman menghentikan operasi disampaikan dewan direksi perusahaan dalam pernyataan yang sama. “Dewan direksi perusahaan juga menegaskan, bila serangan-serangan ini berlanjut, perusahaan terpaksa menyatakan keadaan kahar dan menangguhkan operasi di kilang,” bunyi peringatan itu.

Keadaan kahar adalah status hukum yang membebaskan perusahaan dari kewajiban kontrak pasokan karena keadaan di luar kendalinya. Bila status itu benar-benar diumumkan, pasokan bahan bakar untuk pasar domestik Libya yang selama ini bergantung pada Zawiya ikut terganggu, di saat pasar minyak dunia sedang melonggar setelah pasokan global pulih. Harga minyak mentah Indonesia pada Juli 2026 turun ke US$81,68 per barel seiring pemulihan pasokan itu.

Brega Oil Company, pemilik tangki yang terbakar, menyerukan “semua pihak menghentikan pertempuran dan menjauhi fasilitas serta depot minyak”. Perusahaan menegaskan fasilitas minyak adalah infrastruktur vital milik seluruh rakyat Libya dan melindunginya merupakan tanggung jawab nasional yang tidak menoleransi kelalaian apa pun.

Dua Pemerintahan, Satu Aset yang Sama

Rangkaian serangan ini menyorot persoalan keamanan yang tidak pernah selesai di Libya. Negara itu terbelah sejak 2014, tiga tahun setelah pemberontakan yang didukung NATO menumbangkan Muammar Gaddafi pada 2011. Gencatan senjata 2020 menghentikan perang besar, tetapi kelompok-kelompok bersenjata tetap berpengaruh.

Kini dua pemerintahan bersaing: administrasi di Tripoli yang diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa di bawah Perdana Menteri Abdul Hamid Dbeibah, dan pemerintahan tandingan di timur yang disokong komandan militer Khalifa Haftar. Pemerintah Tripoli menyatakan Dbeibah menggelar pertemuan dengan menteri dalam negeri dan sejumlah pimpinan kelompok bersenjata di ibu kota untuk mengikuti perkembangan keamanan terbaru, dan menekankan perlunya bertindak tegas terhadap segala pelanggaran yang mengancam keamanan atau merusak fasilitas vital.

Komite Energi dan Sumber Daya Alam Dewan Perwakilan Libya secara terpisah mengecam serangan itu sebagai “serangan kriminal terhadap Kilang Zawiya, salah satu fasilitas paling vital di sektor minyak dan gas yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional”, dan menuntut perlindungan lebih kuat atas instalasi minyak. Instalasi energi memang berulang kali menjadi sasaran drone dalam konflik di berbagai negara; di Rusia, serangan drone Ukraina ke kota kilang Nizhnekamsk disebut otoritas setempat menewaskan 12 orang pekan lalu.

Baca juga: Gudang Amunisi di Bulgaria Ludes Terbakar setelah Rentetan Ledakan

Baca Juga

Gedung Capitol Amerika Serikat di Washington DC tempat Senat bersidang
Abdul El-Sayed Balas Unggahan Trump yang Sandingkan Dua Pasangan
Fasilitas penyimpanan residu pertanian milik Sequest di kawasan gurun Arab Saudi
Startup Sequest Incar Arab Saudi Jadi Pusat Penyimpanan Karbon Dunia
Ilustrasi satelit mengorbit Bumi dengan latar permukaan samudra biru
VinSpace Teken Kontrak dengan SpaceX, Satelit Vietnam Mengorbit 2027
Tenaga medis mengoperasikan peralatan medis di ruang perawatan rumah sakit
Suriah Kucurkan US$1 Juta untuk RS Tadmor, Unit Cuci Darah Mulai Melayani Pasien
Gedung lembaga pemerintahan di Manila, Filipina, pada siang hari
Wakil Presiden Filipina Sara Duterte Didakwa Mengancam Nyawa Marcos
Seekor burung asli Australia bertengger di dahan di habitat alaminya
Australia Vaksinasi Burung Asli di Penangkaran demi Bendung Flu Burung H5N1