- Hanya 334 yang dinilai pemotretnya sebagai pendukung kehidupan yang layak, 87 dinilai dua-duanya, sedangkan 702 atau 62,5 persen dicatat sebagai hambatan.
- Trotoar tidak rata, berlubang, penuh rintangan, tanpa ramp dan tanpa lampu penyeberangan, sehingga berbahaya bagi penyandang disabilitas, lansia, dan anak-anak.
- Harapan terbesar adalah vegetasi yang bertambah, disebut 23,3 persen warga.
- Pada Juni 2025, Institut Pembangunan Kota mengundang tim masuk kelompok kerja untuk merancang ulang satu segmen koridor.
Daftar Isi
- Tujuh Belas Warga Masuk Ruangan, Dua Puluh Empat Pejabat Sudah Menunggu Jawaban
- Setahun Sebelumnya, Enam Puluh Enam Orang Menyusuri Jalan Sepanjang 24 Kilometer dengan Ponsel di Tangan
- Trotoar yang Disebut Bencana, Udara yang Sedikit Lebih Lega, dan Pelecehan yang Hanya Diceritakan Perempuan
- Di Luar Forum Itu, Ribuan Tetangga Koridor Menimbang Pohon yang Akan Datang dan Mobil yang Akan Tersingkir
- Jawaban yang Kembali ke Program Lama, Kursi yang Kosong Setelah Delapan Bulan, dan Angka yang Berbeda di Dua Halaman
Pada 4 April 2024, tujuh belas warga Bogotá membawa keluhan tentang jalan mereka ke hadapan 24 pejabat kota. Selama dua setengah jam, mereka memaparkan trotoar yang rusak, rasa tidak aman, dan pelecehan yang dialami perempuan di 7th Street. Para pejabat lalu menanggapi. Cara mereka menanggapi itulah yang kemudian menjadi salah satu temuan paling tajam dalam riset ini.
Pertemuan itu tercatat dalam riset Lina María Gómez-García, Olga L. Sarmiento, dan sembilan peneliti lain dari Universidad de los Andes, Universidad Nacional de Colombia, Stanford University, dan Florida State University. Judulnya Community voices to understand and promote liveability in the Green Corridor urban transformation project in Bogotá, Colombia, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 2078, tahun 2026. Naskahnya ditulis dalam bahasa Inggris.
Tujuh Belas Warga Masuk Ruangan, Dua Puluh Empat Pejabat Sudah Menunggu Jawaban
Pejabat yang hadir datang dari banyak kantor. Sembilan orang dari Sekretariat Budaya, empat dari Perencanaan, tiga dari Mobilitas, dua dari Integrasi Sosial, dan masing-masing satu dari Lingkungan, Kesehatan, serta Keamanan. Dua lagi mewakili Departemen Administratif Pertahanan Ruang Publik, dan satu orang datang dari TransMilenio, operator bus rapid transit kota itu.
Warga membuka forum. Mereka menyodorkan masalah yang sudah mereka pilih sendiri: pemakaian ruang publik yang tidak semestinya, trotoar yang buruk atau tidak ada, dan rasa tidak aman yang dirasakan perempuan di ruang publik. Mereka juga mengangkat urusan yang lebih luas, yakni lambannya lembaga menanggapi persoalan perumahan dan hak kelompok rentan, serta buruknya operasi transportasi umum.
Sebagian pejabat menyambut data itu. Seorang pejabat Sekretariat Mobilitas mengaitkannya dengan proyek besar yang sedang berjalan. “Informasi yang diberikan riset ini membantu mengonsolidasikan diagnosis Sekretariat tentang koridor timur, yang menjadi bagian dari analisis kami untuk proyek infrastruktur besar, seperti jalur metro pertama,” katanya, sebagaimana dikutip dalam naskah berbahasa Inggris itu.
Ia menambahkan bahwa hasil riset akan membantu menyempurnakan rencana manajemen lalu lintas untuk proyek-proyek tersebut. Di akhir pertemuan, warga yang hadir menyebut proses itu membuat mereka lebih sadar akan lingkungan fisik dan sosialnya. Mereka juga merasa suara mereka akhirnya sampai ke lembaga-lembaga distrik, dengan kampus sebagai perantara.
Baca juga Anggaran Gender Kota Padang Naik, Isinya Masih Formalitas
Setahun Sebelumnya, Enam Puluh Enam Orang Menyusuri Jalan Sepanjang 24 Kilometer dengan Ponsel di Tangan
Jalan itu sedang menunggu perubahan besar. Pada 2022, Bogotá merevisi rencana tata ruangnya dan memasukkan jaringan koridor hijau, jalan yang ruangnya dibagi ulang untuk bus, sepeda, dan pejalan kaki, lengkap dengan kanopi pohon, taman, plaza, dan saluran air. Koridor pertama dari 32 yang direncanakan akan dibangun di 7th Street, jalan arteri sepanjang 24 kilometer dari pusat kota ke utara.
Pembangunannya dijadwalkan mulai 2026 dan rampung 2030. Sekitar 268.000 orang tinggal dan 347.000 orang bekerja dalam radius 800 meter dari jalan itu. Menurut data mobilitas yang dikutip naskah, 39,1 persen perjalanan di sana memakai bus dan bus rapid transit, 24,7 persen berjalan kaki, dan hanya 3,8 persen bersepeda.
Antara Agustus dan Oktober 2023, 66 warga menyusuri jalan itu dengan moda andalan masing-masing sambil memotret dan merekam cerita. Mereka pelajar, pekerja, pensiunan, dan pengasuh tak berbayar dari lingkungan berpendapatan rendah, dengan usia tengah 49 tahun. Dua puluh lima di antaranya pemimpin komunitas, dan lima orang penyandang disabilitas penglihatan atau mobilitas.
Sebanyak 41 orang menjalani penelusuran dengan berjalan kaki, 16 dengan transportasi umum, enam dengan sepeda, dan tiga dengan mobil pribadi. Hasilnya 1.123 cerita foto dan rekaman suara. Hanya 334 yang dinilai pemotretnya sebagai pendukung kehidupan yang layak, 87 dinilai dua-duanya, sedangkan 702 atau 62,5 persen dicatat sebagai hambatan.
Trotoar yang Disebut Bencana, Udara yang Sedikit Lebih Lega, dan Pelecehan yang Hanya Diceritakan Perempuan
Yang paling sering dipuji adalah kedekatan dengan layanan sehari-hari. Rumah sakit, apotek, sekolah, universitas, supermarket, toko roti, kedai kopi, dan tempat olahraga disebut menghemat waktu perjalanan dan membuka peluang bergaul. Urutan kedua ditempati area hijau dan pohon kota, yang dianggap memperbaiki udara, menekan penyakit pernapasan, dan menyehatkan jiwa.
Seorang pemotret laki-laki berusia 23 tahun merasakannya di segmen dekat perbukitan. “Di segmen ini bernapas sudah terasa sedikit lebih mudah,” katanya dalam rekaman yang dikutip naskah. Ia lalu menambahkan bahwa 7th Street punya cukup banyak area hijau dan pohon yang membantu membersihkan udara, “tetapi polusi kendaraan masih sangat kuat.”
Hambatan terbesar ada di bawah kaki. Trotoar tidak rata, berlubang, penuh rintangan, tanpa ramp dan tanpa lampu penyeberangan, sehingga berbahaya bagi penyandang disabilitas, lansia, dan anak-anak. “Trotoar untuk pejalan kaki itu bencana, penuh rintangan dan dirancang dengan buruk,” kata seorang pemotret laki-laki berusia 54 tahun, terutama bagi pengguna kursi roda.
Hambatan kedua adalah rasa tidak aman. Laki-laki dan perempuan sama-sama menyebut jalanan yang terlalu ramai atau terlalu sepi, jual-beli dan pemakaian zat psikoaktif, serta keberadaan tunawisma dan pedagang informal. Satu hal hanya muncul dari mulut perempuan. Pelecehan di jalan dan di transportasi umum, terutama di bagian yang sepi pejalan kaki.
Seorang pemotret perempuan berusia 21 tahun menceritakannya tanpa berputar-putar. “Saat kamu sekadar berjalan, apalagi sendirian, pelecehannya jadi jauh lebih terasa. Orang berkomentar, bersiul, dan kadang bahkan mengikuti atau mendekatimu dengan cara yang invasif yang bisa berujung kontak fisik,” katanya. Menurutnya hal itu sering terjadi di sepanjang jalan tersebut, terutama pada jam-jam larut.
Baca juga Kesenjangan SES Perlebar Risiko Disabilitas Lansia Kota
Di Luar Forum Itu, Ribuan Tetangga Koridor Menimbang Pohon yang Akan Datang dan Mobil yang Akan Tersingkir
Warga yang tidak ikut memotret juga ditanyai. Survei rumah tangga terhadap 2.445 penghuni di sepanjang koridor, yang mewakili sekitar 268.000 orang dewasa, mencatat 40,8 persen setuju dengan proyek koridor hijau. Yang tidak setuju 23,5 persen, yang tidak peduli 22,1 persen, dan 13,6 persen memilih tidak menjawab.
Harapan terbesar adalah vegetasi yang bertambah, disebut 23,3 persen warga. Jalur pejalan kaki dan sepeda yang membaik serta ruang publik yang lebih baik masing-masing disebut 17,2 persen. Di sisi cemas, 19,6 persen khawatir akses mobil berkurang, 11,7 persen cemas TransMilenio diprioritaskan, dan 11,2 persen takut transportasi umum justru memburuk.
Para penulis melihat pola yang bertemu di dua sumber itu. Kondisi yang paling dihargai warga dan paling mereka takutkan hilang adalah hal yang juga disebut para pemotret sebagai ciri hidup layak di 7th Street: infrastruktur hijau dan pejalan kaki, mutu ruang publik, dan rasa aman. Faktor lingkungan fisik banyak dipuji, sedangkan faktor sosial terus muncul sebagai hambatan.
Warga tidak berhenti di keluhan. Untuk trotoar, mereka mengusulkan pemetaan berbasis data untuk menentukan titik yang perlu diperbaiki, merancang trotoar bersama penyandang disabilitas, dan membangun jalur sepeda. Untuk keamanan, mereka meminta lampu jalan dan kamera, menghidupkan lahan telantar, gym luar ruang, penyebaran polisi yang lebih merata, dan komite sipil lintas sektor.
Usulan lain datang lebih rinci. Ada gagasan toilet umum, kampanye memakai ruang publik dengan bertanggung jawab, dan sensus pedagang kaki lima sebagai langkah pertama menuju kesepakatan dengan pemilik toko. Soal sampah, mereka mengusulkan denda, penghargaan antarlingkungan, dan perabot pembuangan yang dirancang bersama warga.
Jawaban yang Kembali ke Program Lama, Kursi yang Kosong Setelah Delapan Bulan, dan Angka yang Berbeda di Dua Halaman
Jawaban para pejabat di forum April itu terbagi tiga. Sebagian menunjuk program yang sudah berjalan, seperti El Centro Vive milik Sekretariat Budaya dan Pusat Mobilitas Lokal milik Sekretariat Mobilitas, sebagai tempat data warga bisa dipakai. Sebagian lagi menekankan tanggung jawab bersama, misalnya lewat anggaran partisipatif atau aplikasi TransMilenio untuk melaporkan sopir yang melewati halte.
Kelompok ketiga merujuk kerangka kebijakan besar, seperti Rencana Mobilitas Berkelanjutan 2023–2035 dan Kebijakan Disabilitas 2023–2034, tanpa menyentuh keluhan warga secara khusus. Mereka mengakui perbaikan menyeluruh tidak mungkin dalam waktu dekat. Operasi pengendalian kebisingan yang dipicu laporan warga, kata mereka, kerap tertunda karena banyaknya permintaan.
Di titik inilah naskah menjadi paling tajam. “Namun, temuan itu juga mengungkap kecenderungan para pembuat kebijakan untuk bersandar pada program yang sudah ada ketika menanggapi keprihatinan warga, alih-alih menciptakan solusi baru bersama,” tulis Gómez-García, Sarmiento, dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Tim peneliti tidak berhenti di forum itu. Mereka menggelar pertemuan terpisah dengan sejumlah kantor distrik hingga Maret 2025, lalu membuat empat podcast yang masing-masing diputar 101 sampai 508 kali dan enam video pendek Instagram yang menjangkau 3.700 sampai 7.900 akun. Pada Juni 2025, Institut Pembangunan Kota mengundang tim masuk kelompok kerja untuk merancang ulang satu segmen koridor.
Baca juga Gelombang Panas Dhaka: Merasa Terancam, 7,77 Kali Lebih Sakit
Temuan ini punya batas yang diakui penulisnya. Kelompok pemotret mungkin tidak mewakili remaja, penyandang disabilitas berat, atau warga yang sangat rentan, dan aplikasi foto bisa melewatkan masalah yang tak kasatmata seperti kekerasan berbasis gender. Pesertanya juga berguguran: 31 orang mundur sebelum pertemuan kelompok, dan 18 lagi hilang setelah jeda delapan bulan akibat pemilihan wali kota.
Pembaca yang teliti juga akan menemukan angka yang tidak sama. Di badan teks, pemotret yang bekerja disebut 57,6 persen atau 38 orang, tetapi tabel profil mencatat 39 orang atau 59,1 persen. Angka 57,6 persen itu persis sama dengan porsi pekerja di survei rumah tangga. Lulusan universitas atau pendidikan teknik juga tertulis 23 orang di teks dan 24 orang di tabel.
Ada pula kutipan yang atribusinya bergeser. Naskah membuka satu kutipan sebagai refleksi para pemotret warga tentang kampus yang menjadi jembatan ke kebijakan publik, tetapi label di ujung kutipan itu menyebut pembicaranya pejabat Sekretariat Budaya. Hal kecil lain, tiga dari 66 pemotret yang memakai mobil ditulis 4,6 persen, padahal hitungannya 4,5 persen.
Forum 4 April 2024 itu berakhir dengan refleksi para pemotret tentang proses yang mereka jalani. Mereka menyebut kesadaran akan lingkungannya bertambah, dan suara mereka sampai ke meja lembaga distrik. Saat itu koridor hijau belum dibangun, trotoar yang disebut bencana belum disentuh, dan jadwal pembangunannya masih menunjuk 2026.















