- Serikat pekerja menyebut sekitar 300.000 pegawai negeri Prancis ikut mogok nasional menuntut kenaikan gaji.
- Pemerintah berencana membekukan gaji pokok pegawai negara pada 2027 untuk menghemat 2 miliar euro.
- Sophie Binet dari CGT memberi pemerintah tenggat 48 jam untuk membatalkan rencana pemangkasan.
- Sebanyak 440 orang ditahan dalam unjuk rasa pelajar di lebih dari 400 sekolah.
Cekricek.id — Puluhan ribu pegawai negeri Prancis, termasuk guru, petugas pemadam kebakaran, dan tenaga kesehatan, mogok nasional dan berpawai di berbagai kota pada Selasa untuk menuntut kenaikan gaji, sementara pelajar bentrok dengan polisi dalam unjuk rasa terpisah soal kondisi sekolah mereka.
Serikat pekerja menyebut sekitar 300.000 orang ikut dalam aksi mogok sehari itu, sedangkan polisi memperkirakan 30.000 peserta di Paris, menurut laporan Al Jazeera, Rabu (30/9/2026). Para pekerja juga menuntut kondisi kerja yang lebih baik dan memprotes rencana pemangkasan anggaran pemerintah.
Aksi itu berlangsung dua hari sebelum pemerintah memaparkan rancangan anggaran dan tujuh bulan sebelum pemilihan presiden. Menurut serikat pekerja, pemerintah berencana membekukan gaji pokok pegawai negara pada 2027 untuk menghemat 2 miliar euro. Pembekuan itu akan menjadi yang keempat berturut-turut dan yang kedelapan selama masa jabatan Presiden Emmanuel Macron. Serikat menuntut kenaikan 6 persen.
Serikat Buruh Beri Pemerintah Tenggat 48 Jam
Sekretaris Jenderal Konfederasi Umum Buruh (CGT) Sophie Binet menyebut unjuk rasa itu sebagai “peringatan merah”. “Kemarahan ini tidak akan hilang. Pemerintah harus meninjau kembali anggarannya,” katanya. Binet memberi pemerintah waktu 48 jam untuk membatalkan rencana pemangkasan sebelum serikatnya memutuskan aksi mogok lanjutan.
Kementerian Pendidikan menyebut lebih dari 11 persen guru dan staf sekolah ikut mogok, sementara kurang dari 1 dari 10 pegawai negeri lain turut serta. Petugas pemadam kebakaran, yang menilai kebakaran hutan besar musim panas ini memperlihatkan kurangnya sumber daya, ikut berpawai.
440 Orang Ditahan dalam Protes Pelajar
Unjuk rasa juga terjadi di lebih dari 400 sekolah, sekitar 40 di antaranya diblokade dan 44 lainnya menghadapi upaya blokade. Pelajar memprotes jadwal, jumlah siswa per kelas, kekurangan guru, dan ruang kelas yang kepanasan saat gelombang panas. Sepuluh pelajar dan staf terluka, sementara 48 aparat penegak hukum cedera ketika pelajar di sejumlah tempat membakar tempat sampah dan melempar benda, lalu polisi membalas dengan pentungan dan gas air mata.
Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez mengatakan 440 orang ditahan. “Kekerasan tidak pernah sah. Tidak ada yang membenarkan kekerasan,” ujarnya. Menteri Pendidikan Edouard Geffray menyebut kekerasan itu “tak terkatakan” dan mengatakan proses hukum telah dimulai.
Mael Breton, pelajar tingkat akhir di sekolah Helene-Boucher, Paris, mengatakan, “Kami ingin polisi lebih sedikit karena menurut kami ada represi polisi yang sangat besar, baik terhadap gerakan pelajar sekolah menengah maupun gerakan sosial secara umum.”
Perdana Menteri Sebastien Lecornu pada Senin mengecam unjuk rasa pelajar sebagai tindakan tidak bertanggung jawab, tetapi mengakui “kesulitan sekolah menengah harus didengar dan ditangani”.















