- Dampak paling menonjol pada anak adalah keterlibatan dalam olahraga.
- Pada para ayah, dampak terkuat justru terletak pada kesadaran gender, bukan kebugaran.
- Kini para anak memenuhi anjuran minimal 60 menit gerak sedang hingga berat rata-rata 2,8 hari per minggu.
- Seluruh data tentang anak dan keluarga berasal dari laporan ayah, bukan dari anak atau anggota keluarga lain.
Daftar Isi
Selama bertahun-tahun, kurangnya gerak pada anak perempuan dibaca sebagai persoalan global yang sulit dibalik. Anak perempuan tercatat kurang aktif dibanding anak laki-laki di semua usia, dan kurang dari lima persen anak perempuan usia sekolah dasar sudah menguasai keterampilan dasar olahraga. Di sisi lain, ayah dikenal sebagai pemengaruh besar kebiasaan olahraga anak, tetapi perhatian itu lebih sering tercurah kepada anak laki-laki.
Dari celah itulah sebuah program di Australia lahir, dan kini jejaknya ditelusuri sampai delapan tahun. Temuan terbarunya ditulis Philip J. Morgan, Jaqueline A Grounds, Rosslyn O’Connor, Daniel R Lee, dan Lee M Ashton dalam artikel Long-term outcomes of a father-daughter program for sport participation, activity, wellbeing, and gender equity: a 3-8-year mixed-methods follow-up, yang dimuat BMC Public Health volume 26 tahun 2026.
Para penulis bernaung di University of Newcastle dan Hunter Medical Research Institute di New South Wales, sedangkan O’Connor berasal dari Hunter New England Local Health District. Program yang mereka ikuti bernama Dads and Daughters Exercising and Empowered, disingkat DADEE, yang kini berganti nama menjadi Daughters and Dads Active and Empowered. Naskah menyebutnya program pertama di dunia yang menjadikan ayah sebagai agen perubahan bagi anak perempuannya.
Sebelum 2015: Anak Perempuan di Pinggir Lapangan
Keyakinan lama yang dirujuk naskah cukup muram. Anak laki-laki jauh lebih banyak ikut olahraga dan lebih jarang berhenti, sementara lemahnya keterampilan dasar membuat banyak anak perempuan mundur dari olahraga lalu terbawa tidak aktif sepanjang hidup. Masa remaja memperberat keadaan, karena di usia itulah angka berhenti olahraga, duduk berlama-lama, cemas soal citra tubuh, dan renggangnya hubungan dengan ayah ikut naik.
DADEE dirancang untuk memutus rantai itu lewat hubungan ayah dan anak perempuan. Programnya berjalan sembilan minggu, dimulai dengan satu lokakarya khusus ayah, lalu delapan sesi mingguan yang diikuti ayah bersama anaknya. Tiap sesi berisi 30 menit materi dan 60 menit praktik, termasuk permainan bergulat ringan, latihan menendang, menangkap, memukul, memantulkan, dan melempar bola. Ayah dan anak dilatih saling menjadi teladan agar sama-sama lebih aktif.
Setiap minggu anak juga dibekali satu dari delapan bekal sosial-emosional, yaitu kontrol diri, ketekunan, resiliensi, kebaikan, keberanian, sikap positif, berpikir kritis, dan kemandirian. Anak diminta mencatat bias gender yang dilihat atau didengarnya di buku harian, lalu membicarakannya dengan ayah. Tujuannya agar anak paham bahwa kesempatan hidupnya tidak dibatasi oleh jenis kelaminnya. Materi mingguan juga menyentuh tokoh perempuan panutan dan waktu layar.
2015 sampai 2019: Tiga Uji yang Mendahului
Mata rantai pertama dipasang pada 2015 lewat uji acak efikasi yang melibatkan 278 peserta. Sembilan bulan kemudian, aktivitas fisik anak, keterampilan gerak dasar, kebiasaan menatap layar, dan kesejahteraan sosial-emosionalnya membaik. Aktivitas fisik dan cara mengasuh para ayah ikut membaik, begitu pula hubungan ayah dan anak. Saat itu para anak masih duduk di sekolah dasar, sesuai sasaran awal program.
Pada 2016, uji acak efektivitas dengan 344 peserta memperlihatkan perbaikan yang sama pada tiga bulan, ditambah naiknya harga diri anak. Antara 2017 dan 2019, uji non-acak dengan 542 peserta kembali menemukan perbaikan itu masih bertahan sampai 12 bulan. Riset kualitatif sebelumnya juga mencatat ayah makin paham soal stereotip dan bias gender, keterlibatan ayah yang lebih besar, serta dinamika keluarga yang membaik.
Namun, rantai itu berhenti pada angka satu tahun. Naskah mencatat tindak lanjut lebih dari 12 bulan sangat langka pada program aktivitas fisik keluarga, kesejahteraan, pengasuhan oleh ayah, dan aktivitas fisik anak perempuan. Belum diketahui apakah pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang terbentuk masih tertinggal bertahun-tahun kemudian, ketika para anak sudah beranjak remaja. Naskah menyebut tindak lanjut jangka panjang berguna untuk menilai apakah efek sebuah program bertahan dan kapan masa pencegahan paling penting.
Tahun 2023: Morgan dan Rekan Menemui Para Alumni
Pertanyaan itu dijawab pada 2023, ketika Morgan dan rekan menghubungi 396 ayah alumni program angkatan 2015 sampai 2020. Sebanyak 197 ayah menuntaskan survei, dan 24 di antaranya dipilih acak untuk diwawancarai. Rata-rata usia para ayah 47,5 tahun, sedangkan anak perempuan mereka kini rata-rata berusia 14,4 tahun. Setengah dari ayah yang diundang menuntaskan survei, dan tanggapan tertinggi datang dari angkatan awal.
Para penulis menempatkan kerja ini sebagai mata rantai yang belum pernah ada. Mereka menulis, “sepengetahuan kami, ini adalah periode tindak lanjut terpanjang dari intervensi pengasuhan mana pun yang menyasar aktivitas fisik dan/atau kesejahteraan anak.” Kalimat itu berbahasa Inggris dalam naskah aslinya dan diterjemahkan di sini. Menurut mereka, perbandingan dengan studi serupa sulit dilakukan karena data tindak lanjut sejenis belum tersedia.
Baca juga Tekanan Akademik Halangi Gaya Hidup Sehat Remaja Karnataka
Tiga sampai Delapan Tahun Kemudian: Anak yang Tetap Bergerak
Dampak paling menonjol pada anak adalah keterlibatan dalam olahraga. Dalam 12 bulan terakhir, para anak ikut rata-rata 3,6 jenis olahraga atau aktivitas, paling banyak sepak bola, renang, dan jalan kaki. Sejak program, mereka melanjutkan rata-rata 1,9 jenis olahraga dan mengambil 1,7 jenis baru, dengan fitness atau gym, Oztag, dan Australian Rules Football sebagai pilihan baru terbanyak.
Tidak semua olahraga bertahan sama kuat. Bersepeda atau bermain skuter dilanjutkan 74,5 persen anak yang pernah melakukannya, jalan kaki 66,2 persen, dan renang 61,5 persen. Senam paling banyak ditinggalkan, yakni 53,8 persen, disusul menari dan kriket yang ditinggalkan 38,1 persen anak pemainnya, dengan alasan terbanyak lebih suka olahraga lain, tidak menikmati, dan waktu yang tersita tugas sekolah.
Para ayah juga bercerita tentang anak yang kini menjadi penggerak di antara teman-temannya dan berani mencoba olahraga yang lazim didominasi laki-laki. Seorang ayah yang dicatat penulis sebagai ID133 menuturkan ucapan anaknya ketika guru mencari dua anak laki-laki kuat untuk mengangkat meja: “Aku lebih kuat daripada anak laki-laki mana pun.” Ucapan itu aslinya berbahasa Inggris.
Survei memperlihatkan pola serupa. Sebanyak 80 persen ayah setuju program berdampak jangka panjang pada kesadaran anak soal ketidaksetaraan gender, dan 75 persen setuju pada kesejahteraan sosial-emosional anak. Keterampilan olahraga, aktivitas fisik, dan kelanjutan olahraga anak masing-masing disetujui 74 persen ayah, sedangkan keputusan anak mencoba olahraga baru disetujui 58 persen. Partisipasi olahraga anak secara umum disetujui 64 persen ayah.
Setelah Program: Ayah, Gender, dan Rumah
Pada para ayah, dampak terkuat justru terletak pada kesadaran gender, bukan kebugaran. Sebanyak 82 persen ayah setuju program mengubah kesadaran mereka sendiri soal kesetaraan gender, dan beberapa membawanya sampai ke tempat kerja. Angka persetujuan tertinggi ada pada hubungan dengan anak sebesar 89 persen, peran sebagai ayah 87 persen, dan praktik pengasuhan 86 persen. Seorang ayah bahkan menyebut dirinya kini lebih peka soal ini di komite keberagaman kantornya.
Kebersamaan fisik ayah dan anak juga tidak hilang. Rata-rata mereka masih bergerak bersama anggota keluarga lain 1,5 hari per minggu, dan berdua saja 1,2 hari per minggu. Para ayah menyebut permainan bergulat yang dipelajari di program masih berlanjut, begitu pula latihan melempar dan menangkap bola di taman serta percakapan yang lebih terbuka di usia remaja anak.
Dampaknya merembes ke keluarga. Hampir semua ayah yang diwawancarai menyebut istri dan anak-anak lain ikut merasakan manfaat, dari kebiasaan menonton olahraga perempuan bersama sampai suami istri yang kini berolahraga bersama. Aktivitas fisik ayah sendiri pun naik, dengan 67 persen ayah menyetujui dampak jangka panjang program pada kebugaran mereka. Bagi sebagian ayah, program itu juga menggeser pandangan lama bahwa karier lebih penting daripada kedekatan dengan anak.
Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi
Batas Klaim Morgan dan Rekan
Angka yang paling penting untuk dibaca hati-hati adalah aktivitas fisik anak. Kini para anak memenuhi anjuran minimal 60 menit gerak sedang hingga berat rata-rata 2,8 hari per minggu. Angka itu 6,7 persen lebih rendah dibanding 3,0 hari pada tindak lanjut 12 bulan, dan 15,2 persen lebih rendah dibanding 3,3 hari sesaat setelah program selesai.
Penulis menyandingkan penurunan itu dengan riset longitudinal yang mereka rujuk, yang mencatat aktivitas anak perempuan turun rata-rata 5,3 persen per tahun dan lebih tajam di usia 13 tahun. Pandemi juga ikut menekan, sebab 31,8 persen ayah menyebut COVID-19 memengaruhi olahraga anaknya, dan sebagian besar dari mereka melaporkan penurunan. Survei di New South Wales yang dirujuk naskah juga mencatat 70 persen dari 16.177 orang tua melihat aktivitas anaknya turun sejak pembatasan COVID-19.
Dari sana penulis menyimpulkan bahwa tingkat aktivitas yang dilaporkan menunjukkan berkurangnya penurunan yang lazim terjadi pada anak perempuan. Namun, mereka sendiri memberi rem. “Karena analisis inferensial tidak dapat dilakukan dalam studi ini, perbandingan deskriptif ini perlu ditafsirkan dengan hati-hati, sebab mencerminkan perbedaan rancangan studi alih-alih perbandingan statistik,” tulis mereka dalam bahasa Inggris.
Keterbatasan lain diakui terang. Seluruh data tentang anak dan keluarga berasal dari laporan ayah, bukan dari anak atau anggota keluarga lain. Sampelnya didominasi ayah yang menikah, berpendidikan tinggi, dan bekerja penuh waktu, sehingga temuan ini belum tentu berlaku lebih luas. Tanpa kelompok pembanding, survei itu hanya menopang cerita wawancara dan tidak membuktikan sebab-akibat.
Baca juga Kenapa Pengawasan Orang Tua Tak Langsung Tahan Narkoba
Catatan pada Naskah 2026
Beberapa angka dalam naskah bisa diperiksa sendiri oleh pembaca. Untuk menari, naskah menulis 31 dari 63 anak berhenti dan menyebutnya 53,4 persen, padahal 31 dibagi 63 menghasilkan sekitar 49,2 persen. Dengan angka yang benar, menari tidak lagi menjadi olahraga kedua yang paling banyak ditinggalkan setelah senam. Angka senam, 21 dari 39 atau 53,8 persen, justru cocok dengan hitungannya.
Jumlah peserta survei juga berganti-ganti. Abstrak dan alur peserta menyebut 197 ayah yang menuntaskan survei, bagian partisipasi program memakai 202 ayah, sedangkan tabel demografi mencantumkan 198. Selain itu, pembahasan menyebut kemungkinan efek pelindung bagi anak di keluarga yang kompleks, padahal dasarnya hanya satu ayah bercerai yang diwawancarai. Selisih lima ayah di antara ketiga angka itu tidak dijelaskan dalam naskah.
Dalam rantai riset DADEE, tindak lanjut ini menjadi mata rantai keempat yang menjangkau masa remaja para anak, masa yang sebelumnya hanya bisa diduga dari uji berjangka satu tahun. Ia memperpanjang cerita dari 2015 sampai 2023, tetapi dituturkan sepenuhnya lewat suara para ayah, sementara suara anak perempuannya sendiri masih menunggu mata rantai berikutnya.















