Jumbo Dibaca sebagai Lima Pesan Moral dari Tujuh Adegan

A A

Pengunjung berjalan di depan lobi bioskop di pusat perbelanjaan Living World Kota Wisata, Bogor. [Foto: RasyaAbhirama13/Wikimedia Commons CC BY-SA 4.0]

  • Empat pengajar Universitas Methodist Indonesia membedah tujuh adegan Jumbo menit demi menit
  • Lima pesan moral: percaya diri, menjauhi perundungan, persahabatan, keberanian, kasih keluarga
  • Keberanian Don dibaca sebagai hasil dukungan nenek, catatan ibu, dan kawan, bukan dari dalam diri
  • Paper tidak menanyai penonton dan memuat dua klaim "pertama" yang berbeda
Daftar Isi
  1. Ejekan yang Diberi Nama
  2. Buku yang Bukan Sekadar Buku
  3. Kemenangan yang Dipinjam dari Orang Lain
  4. Suara dari Radio Tua
  5. Yang Tidak Diukur Paper Ini
  6. Pesan yang Tinggal di Layar

Film anak yang laris hampir selalu dicurigai hanya menjual haru, dan animasi yang mengangkat anak gemuk bernama Don rasanya mudah dimasukkan ke laci yang sama. Namun empat pengajar dari Universitas Methodist Indonesia justru mendudukkan Jumbo sebagai bahan pendidikan karakter, membedah tujuh adegannya menit demi menit, dan menyimpulkan bahwa film garapan Ryan Adriandhy itu memuat lima pesan moral yang, menurut mereka, layak dipakai untuk membentuk watak anak dan remaja.

Kajian itu ditulis Nurlaidy Joice Simamora, Harkiman Racheman, Vivi Novalia Sitinjak, dan Karana Jaya Tarigan dengan judul Moral Messages and Educational Values in the Film Jumbo, terbit di Jurnal Ilmu Budaya volume 14 nomor 1, tahun 2026. Naskahnya berbahasa Inggris, satu penulis berasal dari program Pendidikan Teknologi Komputer dan tiga lainnya dari Sastra Inggris, dan yang mereka bedah bukan penonton, melainkan dialog dan tindakan tokoh di layar.

Ejekan yang Diberi Nama

Pesan moral, menurut para penulis, berbeda dari tema, dan pembedaan inilah yang mereka pegang sepanjang naskah. Tema adalah gagasan besar yang terbuka bagi banyak tafsir, sementara pesan moral lebih praktis dan mengarahkan, semacam anjuran tentang bagaimana orang sebaiknya bertindak, dengan contoh yang mereka berikan sendiri: kejujuran selalu membawa manfaat. Jumbo, dalam kerangka itu, dibaca bukan sebagai kisah tentang persahabatan, melainkan sebagai rangkaian anjuran yang disampaikan lewat konflik.

Adegan pertama yang mereka ambil berlangsung di lapangan, pada menit ketujuh, ketika anak-anak bermain bola tradisional dan Don, yang bertubuh besar, kesulitan menangkap bola. Alih-alih disemangati, ia menjadi sasaran ejekan Atta dan kawan-kawannya, dipanggil Jumbo, disuruh pulang mencuci kaki dan kembali mendongeng, lalu ditutup dengan satu kata yang dalam naskah ditulis Fatty. Para penulis menamainya perundungan verbal, dan dari situ pesan pertama mereka rumuskan: mengejek rupa dan latar keluarga orang lain tidak dapat dibenarkan.

Yang menarik, Don di adegan itu bukan tokoh yang diam. Ia berlari, berhasil menangkap bola, dan berseru bahwa ksatria kecil telah menangkap bintang jatuh, sebuah kalimat yang menurut paper memperlihatkan imajinasi dan motivasinya, dua sifat yang justru tidak dilihat oleh para pengejeknya. Perundungan, dalam pembacaan ini, bukan hanya melukai perasaan, melainkan menutup mata pelakunya terhadap apa yang sebenarnya dimiliki korban.

Baca juga Lima Warna Busana May Menandai Emosi di 27 Step of May

Tujuh adegan Jumbo yang dibedahTujuh adegan Jumbo dari menit 7 sampai menit 88.Tujuh adegan Jumbo yang dibedahStempel waktu adegan seperti ditulis dalam paper; menit 88 = 01:2807:13Lapangan bola: Don diejek "Jumbo" dan "Fatty" olehAtta dan kawan-kawan14:20Don menemukan tulisan tangan ibunya di buku cerita,lalu berani mengusulkan ide festival17:40Pendaftaran festival: Atta menuduh Don curang,merebut buku, Don terjatuh36:33Nenek: "Kamu punya Nenek, dan kamu punya buku ini"38:07Tak ada uang perlengkapan; Maisaroh mengusulkanikut lomba berhadiah44:22Pentas Festival Desa Seruni: lagu ksatria kecil, tepuktangan, juara pertama88:17Radio tua: Don mendengar suara ayah dan ibu, laluberpamitanDialog dalam paper berbahasa Inggris; terjemahan Cekricek.id.
Sumber: Nurlaidy Joice Simamora, Harkiman Racheman, Vivi Novalia Sitinjak, dan Karana Jaya Tarigan, Moral Messages and Educational Values in the Film Jumbo, Jurnal Ilmu Budaya, 14(1), 2026. Grafik: Cekricek.id

Buku yang Bukan Sekadar Buku

Namun titik balik cerita, menurut para penulis, tidak datang dari lapangan, melainkan dari sebuah buku cerita. Pada menit keempat belas Don, yang ragu mengusulkan ide untuk Festival Desa Seruni, membuka buku peninggalan orang tuanya dan menemukan tulisan tangan ibunya berupa sebuah lagu, dan seketika sikapnya berubah: ia membagi tugas, Mae mengurus kostum dan musik, Nurman menghias panggung, dan ia sendiri membayangkan bahwa bila menang, tidak akan ada lagi yang memanggilnya Jumbo.

Buku itu kembali menjadi pusat pada dua adegan lain, dan di situlah para penulis menaruh pesan tentang keluarga. Pada menit ketujuh belas Atta menuduh Don curang, merebut buku itu dan lari, sementara Don terjatuh saat mengejarnya, sebuah adegan yang mereka baca sebagai akibat dari iri hati dan ketidakmampuan mengelola emosi. Pada menit ketiga puluh enam giliran sang nenek yang bicara, mengatakan bahwa ayah dan ibu memang sudah tiada, tetapi buku itu selamanya milik Don, dan Don tidak akan pernah kehilangan teman.

Di situlah persoalannya menjadi lebih dalam dari sekadar benda. Para penulis membaca buku itu sebagai lambang kasih orang tua yang tetap hadir setelah kematian, dan mereka menyebut dukungan sesederhana kalimat nenek itu sebagai sumber rasa aman, keberanian, dan percaya diri bagi seorang anak. Keluarga, tulis mereka, adalah tempat pertama nilai dan watak dipelajari, sehingga dukungan keluarga membantu anak tumbuh dan mengejar mimpinya.

Kemenangan yang Dipinjam dari Orang Lain

Justru sebaliknya dari gambaran anak yang berjuang sendirian, Jumbo menurut paper ini adalah film tentang orang-orang di sekeliling Don. Ketika mereka kehabisan uang untuk perlengkapan pentas pada menit ketiga puluh delapan, Maisaroh yang mengusulkan ikut lomba berhadiah, dan para penulis melihat di sana pesan tentang inisiatif, kerja sama, dan ketekunan, bahwa jalan keluar tidak selalu datang dari gagasan besar, melainkan dari keberanian mencoba hal baru.

Puncaknya pada menit keempat puluh empat, ketika Don dan kawan-kawannya menyanyikan lagu tentang ksatria kecil di panggung Festival Desa Seruni, penonton bertepuk tangan, dan Don menjadi juara pertama. “Keberhasilan Don bukan hanya hasil bakatnya, melainkan juga keberaniannya dan dukungan positif yang ia terima dari orang-orang di sekitarnya,” tulis Nurlaidy Joice Simamora dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu, yang aslinya berbunyi Don’s success is not only the result of his talent but also of his courage and the positive support he receives from the people around him.

Kalimat itu membelokkan arah pembacaan, karena percaya diri, pesan moral pertama dalam daftar mereka, ternyata tidak dibangun dari dalam diri Don sendiri. Ia dipinjam dari nenek, dari catatan ibu, dari Maisaroh, dari sosok bernama Meri yang disebut paper sebagai pemberi semangat, dan baru setelah itu dipulangkan menjadi keberanian tampil di depan orang banyak. Keberanian, tulis mereka, sering kali dipupuk oleh orang yang percaya pada kemampuan kita.

Baca juga Sound Logo Netflix, Dua Detik yang Dirancang Ketat

Suara dari Radio Tua

Adegan terakhir yang dibedah, pada menit ke-88, berjalan lambat dan sunyi: Don berdiri sendirian di depan radio tua, mendengar suara ibu dan ayahnya seolah berada di sampingnya, meminta maaf karena tidak lagi bisa melihat mereka, lalu mendengar ayahnya berkata bahwa mereka bangga padanya. Suara itu memudar, dan para penulis membaca kesedihan yang tersisa bukan sebagai kekalahan, melainkan sebagai kekuatan batin untuk terus melangkah.

Doa dan kenangan, dalam pembacaan mereka, menjadi bentuk komunikasi spiritual antara Don dan orang tuanya, dan cinta orang tua disebut tidak pernah pudar meski dipisahkan kematian. Dari sinilah kesimpulan besar paper ini ditarik: Don belajar di Festival Desa Seruni bahwa keberhasilan tidak ditentukan rupa fisik, melainkan kerja keras, doa, dan kebaikan hati, sehingga film ini, menurut mereka, cocok ditonton segala usia dan layak dijadikan alat pendidikan karakter.

Isi paper Jumbo dalam empat angkaLima pesan moral dari tujuh adegan Jumbo.Isi paper Jumbo dalam empat angkaUniversitas Methodist Indonesia, Jurnal Ilmu Budaya 14(1), 20265pesan moraldari diri sampaikeluarga7adeganmenit 7 sampai883sahabatMaisaroh,Nurman, Mae1buku ceritalagu tulisan ibuJalan risetnyaAdegan dipilih dan dialogdicatatTanda dan tafsir tiapadeganLima pesan moraldirumuskanPaper tidak menjelaskan dasar pemilihan tujuh adegan itu.
Sumber: Nurlaidy Joice Simamora, Harkiman Racheman, Vivi Novalia Sitinjak, dan Karana Jaya Tarigan, Moral Messages and Educational Values in the Film Jumbo, Jurnal Ilmu Budaya, 14(1), 2026. Grafik: Cekricek.id

Yang Tidak Diukur Paper Ini

Namun ada jarak yang tidak dijembatani naskah ini, yaitu jarak antara pesan yang dibaca peneliti dan pesan yang benar-benar sampai kepada anak yang menonton. Paper tidak memuat bagian keterbatasan, tidak menyertakan satu pun penonton yang ditanya, dan tidak menjelaskan mengapa tujuh adegan itulah yang dipilih dari film sepanjang lebih dari sembilan puluh menit, sehingga klaim bahwa Jumbo berkontribusi pada perkembangan moral anak dan remaja tetap berupa tafsir atas layar, bukan hasil pengukuran.

Ada pula sejumlah hal kecil yang bisa diperiksa pembaca. Di pendahuluan Jumbo disebut film animasi petualangan fantasi pertama Indonesia, tetapi di bagian temuan ia berubah menjadi film animasi anak pertama Indonesia, dua klaim pertama yang tidak sama. Bagian metode menyebut kajian pustaka kualitatif deskriptif, sementara tabel temuan memakai kolom tanda dan tafsir yang tidak pernah disinggung di bagian metode, dan bagian diskusi diberi nomor 3.1 sampai 3.5 padahal berada di dalam bagian keempat.

Tokoh bernama Meri muncul di analisis adegan pentas tanpa pernah hadir dalam dialog yang dikutip, tokoh Peri bicara satu baris di adegan uang tanpa diperkenalkan, dan pada adegan perebutan buku deskripsinya hanya menyebut buku direbut, tetapi analisisnya menyebut buku rusak. Tahun sitasi Creswell ditulis 2022 di teks dan 2023 di daftar pustaka, Moleong ditulis 2021 lalu 2023, dan tautan Netflix diulang lima kali di daftar pustaka.

Baca juga Kucing, Jeruk, dan Gambar AI yang Kehilangan Gaya

Pesan yang Tinggal di Layar

Kejanggalan-kejanggalan itu tidak mengubah isi pembacaan, tetapi memperlihatkan betapa lima pesan moral yang dirumuskan, percaya diri, menjauhi perundungan, persahabatan, keberanian, dan kasih keluarga, adalah hasil dari cara empat pengajar membaca satu film, dengan segala pilihannya. Film yang sama, ditonton anak yang pernah dipanggil gemuk di lapangan, mungkin menyimpan pesan yang urutannya berbeda, atau bahkan pesan keenam yang tidak sempat masuk tabel.

Paper ini sendiri menunjukkan bahwa keberanian Don dipinjam dari nenek, dari catatan ibu, dan dari kawan yang mengusulkan ikut lomba. Lalu bila begitu dari nenek, dari catatan ibu, dan apakah pesan tentang percaya diri itu benar-benar pesan tentang diri, atau justru pesan tentang orang lain yang bersedia percaya lebih dulu, dan siapa yang akan memainkan peran itu bagi anak yang menontonnya tanpa nenek, tanpa buku, dan tanpa Maisaroh?

Bagikan

Baca Juga

Satu Modul Kesehatan Jiwa, Dua Hasil di Riyadh dan Kuala Lumpur
Kantin SD di Cavite Tambah Menu Hijau, Separuhnya Camilan Kemasan
Film Islami Orde Baru Merekam Kerudung yang Berubah
Nilai Membaca Naik Setelah Kuis Daring di Kelas Tujuh
Program Indonesia Pintar Tak Terbukti Tekan Putus Sekolah SMA
Isle of Dogs dan Orientalisme yang Gagal Dibongkar