Pekerja Fisik Berat di Dalam Ruangan Paling Banyak Mengeluh Sakit

A A

Ilustrasi dua pekerja gudang menata jeriken di atas palet kayu, dipotret dari atas [Foto: Tiger Lily/Pexels]

  • Keluhan otot dan rangka paling banyak dilaporkan pekerja fisik berat di dalam ruangan, dengan rata-rata 2,90 keluhan.
  • Pekerja fisik berat di luar ruangan menanggung tuntutan fisik dan tuntutan lingkungan tertinggi di antara empat kelompok.
  • Intensitas kerja yang lebih tinggi berkaitan dengan lebih banyak keluhan psikosomatis pada keempat kelompok pekerja.
  • Otonomi dan dukungan sosial yang lebih besar berkaitan dengan keluhan yang lebih sedikit pada semua kelompok.
  • Rancangan potong lintang survei itu, menurut para peneliti, membatasi penafsiran sebab-akibat.
Daftar Isi
  1. Sebelum 2024: Iklim, Kerja Berat, dan Celah yang Tersisa
  2. Survei 2024 dan Empat Kelompok Pekerja Jerman
  3. Temuan Riedel: Keluhan Terbanyak Datang dari Dalam Ruangan
  4. Yang Berkaitan dengan Nyeri dan Keluhan Psikosomatis
  5. Kerja Akhir Pekan dan Tafsir Riedel yang Berhati-hati
  6. Otonomi Pekerja Luar Ruangan pada Masa Perubahan Iklim
  7. Batas Kajian Riedel dan Mata Rantai Sesudahnya

Suhu yang kian naik, radiasi ultraviolet yang menguat, dan gelombang panas yang makin sering datang telah menjadikan perubahan iklim sebagai persoalan keselamatan dan kesehatan kerja. Perhatian pun tertuju kepada mereka yang bekerja di luar ruangan sambil mengerahkan tenaga, sebab merekalah yang paling langsung berhadapan dengan cuaca. Sebuah survei besar terhadap pekerja di Jerman memperlihatkan gambaran yang lebih berliku: keluhan kesehatan terbanyak justru dilaporkan pekerja fisik berat yang bekerja di dalam ruangan.

Gambaran itu disusun Norman Riedel, Sarah Steghaus, dan Sascha Wischniewski dalam artikel Working conditions and state of health of employees working indoor and outdoor with varying levels of physical demand: Insights from the BIBB/BAuA employment survey 2024, yang terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Ketiganya bekerja di Federal Institute for Occupational Safety and Health di Dortmund, lembaga yang di Jerman dikenal dengan singkatan BAuA dan yang ikut menyelenggarakan survei ketenagakerjaan tempat seluruh angka dalam naskah itu berasal.

Survei bernama BIBB/BAuA Employment Survey 2024 itu menghimpun jawaban 20.006 orang yang bekerja di Jerman, dan untuk kajian ini para peneliti hanya memakai jawaban 17.474 pekerja yang berstatus karyawan. Pekerja mandiri sengaja tidak diikutkan, karena menurut para peneliti mereka dapat menghadapi bentuk tuntutan dan sumber daya yang berbeda, misalnya risiko keuangan dan risiko usaha yang ditanggung langsung.

Sebelum 2024: Iklim, Kerja Berat, dan Celah yang Tersisa

Riset yang lebih dulu ada, sebagaimana dirangkum naskah itu, sudah memperlihatkan siapa yang paling merasakan perubahan iklim di tempat kerja. Laporan kesehatan sebuah perusahaan asuransi kesehatan Jerman mencatat 77 persen pekerja yang terutama bekerja di luar ruangan merasa terdampak perubahan iklim di tempat kerjanya, berbanding 50 persen pekerja dalam ruangan. Pekerja dengan pekerjaan yang berat secara fisik juga lebih sering merasa terdampak daripada mereka yang bekerja sambil duduk, yakni 75 persen berbanding 39 persen.

Yang belum ada, menurut Riedel dan rekan-rekannya, adalah perbandingan berskala besar. Wawancara dengan pekerja konstruksi dalam riset terdahulu memang menunjukkan bahwa pekerja lapangan dan pekerja kantor melaporkan sumber tekanan yang berlainan, tetapi sepengetahuan mereka belum ada perbandingan kuantitatif berskala besar antarkelompok pekerja yang berbeda dalam hal kerja luar ruangan dan pengerahan tenaga. Celah itulah yang hendak mereka isi dengan data survei 2024.

Perhatian mereka pun bukan pada bahaya seketika seperti dehidrasi, melainkan pada akibat yang menumpuk dalam jangka panjang. Akibat itu mereka ukur lewat dua jenis keluhan. Keluhan otot dan rangka mencakup nyeri, rasa tidak nyaman, atau gangguan fungsi pada sistem gerak tubuh, sedangkan keluhan psikosomatis muncul sebagai gejala fisik, seperti sakit kepala karena tegang, gangguan tidur, atau gangguan pencernaan, yang berpangkal pada tekanan psikologis.

Baca juga Gelombang Panas Dhaka: Merasa Terancam, 7,77 Kali Lebih Sakit

Survei 2024 dan Empat Kelompok Pekerja Jerman

Para peneliti membagi karyawan itu ke dalam empat kelompok dengan dua ukuran. Mereka yang rutin bekerja di luar ruangan lebih dari satu jam antara pukul 10.00 dan 15.00 digolongkan sebagai pekerja luar ruangan, dan mereka yang sering melakukan kegiatan fisik sampai napas dan denyut jantungnya naik nyata digolongkan sebagai pekerja fisik berat. Dari dua ukuran itu lahir empat kelompok: luar ruangan berat, luar ruangan ringan, dalam ruangan berat, dan dalam ruangan ringan.

Isi tiap kelompok tidak selalu seperti yang dibayangkan orang. Pada kelompok luar ruangan dengan kerja fisik berat, sektor yang paling banyak muncul adalah administrasi publik, pertahanan, dan jaminan sosial, sebesar 20,0 persen, disusul industri konstruksi 12,1 persen. Kelompok dalam ruangan dengan kerja fisik berat terutama diisi layanan kesehatan dan sosial, 31,6 persen, lalu industri manufaktur 19,9 persen, serta perdagangan dan perbaikan kendaraan bermotor 11,9 persen.

Pekerja fisik berat di luar ruangan menanggung tuntutan fisik dan tuntutan lingkungan tertinggi di antara empat kelompok. Skor rata-rata tuntutan fisik mereka 2,50 dan tuntutan lingkungan 2,59, di atas pekerja fisik berat di dalam ruangan yang mencatat 2,17 dan 2,11. Pekerja luar ruangan dengan kerja ringan berada di urutan berikutnya dengan 1,22 dan 1,36, sedangkan pekerja dalam ruangan dengan kerja ringan, kelompok yang paling besar jumlahnya, mencatat 0,55 untuk kedua ukuran itu.

Dua kelompok pekerja fisik beratDua kelompok pekerja fisik beratDua kelompok pekerja fisik beratRata-rata skor tiap ukuran kondisi kerjaLuar ruanganDalam ruangan2,502,17Tuntutan fisik2,592,11Tuntutanlingkungan2,773,37Intensitas kerja0,931,40Jam kerja taklazim3,463,27Otonomi3,373,26Dukungan sosialSkor makin tinggi berarti makin banyak butir ukuran itu yang dialami.
Sumber: Norman Riedel, Sarah Steghaus, Sascha Wischniewski, Working conditions and state of health of employees working indoor and outdoor with varying levels of physical demand: Insights from the BIBB/BAuA employment survey 2024, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Urutan itu berubah ketika yang diukur adalah tekanan kerja. Intensitas kerja, yang dalam naskah itu berarti tuntutan untuk bekerja dengan cepat atau di bawah tenggat yang ketat, paling tinggi pada pekerja fisik berat di dalam ruangan dengan skor 3,37, disusul pekerja fisik berat di luar ruangan 2,77. Jam kerja yang paling tidak menguntungkan, yakni kerja pada akhir pekan dan di luar pukul 07.00 sampai 19.00, juga dialami kelompok dalam ruangan itu, dengan skor 1,40 berbanding 0,93.

Sumber daya kerja memperlihatkan pembelahan yang lain lagi, yakni antara kerja berat dan kerja ringan. Otonomi tertinggi tercatat pada dua kelompok kerja ringan, masing-masing dengan skor 3,88, sedangkan pekerja fisik berat di luar ruangan mencatat 3,46 dan di dalam ruangan 3,27. Dukungan sosial dari rekan kerja dan atasan mengikuti pola serupa: 3,58 dan 3,52 pada dua kelompok kerja ringan, lalu 3,37 dan 3,26 pada dua kelompok kerja berat.

Temuan Riedel: Keluhan Terbanyak Datang dari Dalam Ruangan

Keluhan otot dan rangka paling banyak dilaporkan pekerja fisik berat di dalam ruangan, dengan rata-rata 2,90 keluhan. Pekerja fisik berat di luar ruangan menyusul dengan 2,70, lalu pekerja ringan di luar ruangan 1,73 dan pekerja ringan di dalam ruangan 1,45. Pola yang sama tampak pada keluhan psikosomatis: 3,32 pada pekerja fisik berat di dalam ruangan, 2,71 pada rekan mereka di luar ruangan, dan 1,98 pada kedua kelompok kerja ringan.

Keluhan kesehatan empat kelompok pekerjaDalam ruangan, kerja fisik berat: Keluhan otot dan rangka +2,90, Keluhan psikosomatis +3,32; Luar ruangan, kerja fisik berat: Keluhan otot dan rangka +2,70, Keluhan psikosomatis +2,71; Luar ruangan, kerja fisik ringan: Keluhan otot dan rangka +1,73, Keluhan psikosomatis +1,98; Dalam ruangan, kerja fisik ringan: Keluhan otot dan rangka +1,45, Keluhan psikosomatis +1,98.Keluhan kesehatan empat kelompok pekerjaRata-rata jumlah keluhan yang dilaporkan pekerja di JermanKeluhan otot dan rangkaKeluhan psikosomatis12340Dalam ruangan, kerja fisik berat2,903,32Luar ruangan, kerja fisik berat2,702,71Luar ruangan, kerja fisik ringan1,731,98Dalam ruangan, kerja fisik ringan1,451,98Keluhan otot dan rangka dihitung dari 8 butir, keluhan psikosomatis dari11 butir.
Sumber: Norman Riedel, Sarah Steghaus, Sascha Wischniewski, Working conditions and state of health of employees working indoor and outdoor with varying levels of physical demand: Insights from the BIBB/BAuA employment survey 2024, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Riedel dan rekan-rekannya membaca hasil itu sebagai akibat dari gabungan beberapa hal sekaligus. Pekerja fisik berat di dalam ruangan tetap menanggung tuntutan fisik dan lingkungan yang besar, sementara intensitas kerja mereka paling tinggi dan jam kerja mereka paling tidak menguntungkan, dengan sumber daya kerja yang sama rendahnya dengan rekan mereka di luar ruangan. Kelompok ini, tulis mereka dalam bahasa Inggris, “tampaknya menghadapi susunan karakteristik pekerjaan yang sangat merugikan”.

Ada pula penjelasan lain yang mereka ajukan untuk keluhan yang sedikit lebih rendah pada pekerja fisik berat di luar ruangan. Kerja di luar ruangan, menurut mereka, mungkin mengandung sumber daya yang tidak terukur dalam survei, misalnya tugas yang lebih beragam, jeda-jeda singkat yang lebih sering, atau rasa bebas yang tidak tertangkap oleh ukuran otonomi yang umum. Sumber daya semacam itu dapat meredam pengaruh tuntutan fisik dan lingkungan.

Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik

Yang Berkaitan dengan Nyeri dan Keluhan Psikosomatis

Di dalam tiap kelompok, para peneliti kemudian menelusuri kondisi kerja mana yang berjalan seiring dengan keluhan. Tuntutan fisik yang lebih tinggi dan intensitas kerja yang lebih tinggi berkaitan dengan lebih banyak keluhan otot dan rangka pada keempat kelompok, dengan koefisien 0,12 sampai 0,23 untuk tuntutan fisik dan 0,08 sampai 0,17 untuk intensitas kerja. Otonomi dan dukungan sosial yang lebih besar berkaitan dengan keluhan yang lebih sedikit pada semua kelompok.

Intensitas kerja yang lebih tinggi berkaitan dengan lebih banyak keluhan psikosomatis pada keempat kelompok pekerja. Koefisiennya 0,23 sampai 0,33, yang terkuat di antara semua kondisi kerja yang diperiksa untuk keluhan jenis ini. Tuntutan fisik, sebaliknya, tidak tampak berkaitan dengan keluhan psikosomatis pada kelompok mana pun, dan jam kerja yang tidak lazim juga tidak menunjukkan kaitan. Dukungan sosial berkaitan dengan keluhan psikosomatis yang lebih sedikit, dengan koefisien antara minus 0,28 dan minus 0,16.

Tuntutan lingkungan memberi hasil yang tidak seragam. Pada tiga kelompok lain, tuntutan lingkungan yang lebih tinggi berkaitan dengan lebih banyak keluhan otot dan rangka maupun psikosomatis, tetapi pada pekerja fisik berat di luar ruangan kaitan itu tidak tampak dalam analisis utama. Ketika para peneliti mengulang analisis dengan skala yang tidak disederhanakan menjadi dua kategori, kaitan itu ternyata bermakna juga pada kelompok tersebut, untuk kedua jenis keluhan.

Selisih dua hasil itu mereka jelaskan dengan sifat kelompoknya. Pekerja fisik berat di luar ruangan, menurut para peneliti, kemungkinan merupakan kelompok orang tangguh yang terseleksi dengan sendirinya dan telah menganggap panas, dingin, dan bising sebagai bagian biasa dari pekerjaan. Akibatnya mereka mungkin melaporkan paparan yang dialaminya lebih ringan daripada kenyataan, sehingga data laporan diri yang disederhanakan dapat meremehkan tuntutan terkait iklim pada kelompok yang sudah sangat terbiasa.

Kerja Akhir Pekan dan Tafsir Riedel yang Berhati-hati

Satu hasil lagi disebut para peneliti sendiri sebagai paradoks. Pada pekerja fisik berat di luar ruangan, bekerja pada akhir pekan dan di luar pukul 07.00 sampai 19.00 berkaitan dengan keluhan otot dan rangka yang lebih sedikit, dengan koefisien minus 0,14, sedangkan pada tiga kelompok lain jam kerja tidak menunjukkan pengaruh. “Hubungan ini kecil kemungkinannya bersifat sebab-akibat langsung,” tulis Norman Riedel, peneliti Federal Institute for Occupational Safety and Health, bersama dua rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu.

Penjelasan yang mereka anggap paling masuk akal adalah bahwa bagi kelompok ini kerja di luar jam biasa mencerminkan lingkungan kerja yang kaya sumber daya, dengan pengawasan yang berkurang, gangguan administratif yang lebih sedikit, dan keleluasaan mengatur laju kerja. Mereka menyandingkannya dengan riset terdahulu: dokter residen bedah didapati lebih mandiri dalam operasi pada malam hari dan akhir pekan, dan giliran malam perawat sering ditandai tuntutan kerja akut yang lebih rendah.

Namun mereka sendiri menawarkan tafsir tandingan. Hasil itu, tulis mereka, mungkin sebagian besar digerakkan oleh efek pekerja sehat yang bertahan dan oleh hubungan sebab-akibat yang terbalik: pekerja yang lebih sehat memilih atau ditugasi pada giliran kerja yang tidak lazim, sedangkan pekerja yang sudah mengalami keluhan beralih ke jam kerja biasa untuk melindungi diri. Pada keluhan psikosomatis, kaitan serupa tidak muncul.

Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia

Otonomi Pekerja Luar Ruangan pada Masa Perubahan Iklim

Dari seluruh angka itu, Riedel dan rekan-rekannya memberi tekanan khusus pada rendahnya otonomi pekerja fisik berat di luar ruangan, yang mereka sebut mengkhawatirkan dalam konteks perubahan iklim. “Otonomi dalam pekerjaan luar ruangan bukan sekadar kenyamanan psikososial, melainkan hal yang esensial untuk melindungi diri,” tulis mereka. Otonomi itu berarti kemampuan untuk beristirahat di tempat teduh saat gelombang panas, memindahkan tugas paling melelahkan ke waktu yang lebih sejuk, atau memakai alat pelindung.

Para peneliti mengingatkan bahwa data mereka hanya mencerminkan keadaan di Jerman. Pola iklim, perbedaan musim, dan kebiasaan kerja bagi pekerja luar ruangan dapat berlainan antarnegara dan antarwilayah. Mereka merujuk European Working Conditions Survey 2015, yang menunjukkan hanya seperlima pekerja Jerman terpapar suhu tinggi, sementara di Spanyol lebih dari sepertiga pekerja, yakni 36 persen, mengalaminya.

Rata-rata kelompok juga menyembunyikan keragaman di dalamnya. Pada kelompok dalam ruangan dengan kerja fisik berat, pekerja perawatan lansia mencatat intensitas kerja 4,48 berbanding rata-rata kelompok 3,37, dan keluhan otot dan rangka 4,05 berbanding 2,90. Pada kelompok luar ruangan dengan kerja fisik berat, pekerja hortikultura mencatat tuntutan fisik 2,95 berbanding 2,50, tetapi intensitas kerja mereka hanya 1,89 berbanding 2,77.

Batas Kajian Riedel dan Mata Rantai Sesudahnya

Para peneliti mencatat sendiri batas kajian mereka. Rancangan potong lintang survei itu, menurut para peneliti, membatasi penafsiran sebab-akibat. Semua ukuran bersandar pada laporan pekerja sendiri, empat kelompok itu tetap luas dan beragam, dan skala yang dipakai hanya terbatas keandalannya, walaupun menurut mereka sebanding dengan yang dilaporkan Meyer dan Siefer dari survei yang sama tahun 2018. Kondisi kerja yang diperiksa pun hanya menjelaskan sebagian kecil dari keragaman keluhan.

Karena analisis dikerjakan terpisah untuk tiap kelompok, para peneliti juga menyatakan tidak dapat memastikan secara statistik apakah kekuatan kaitan itu sungguh berbeda antarkelompok. Untuk riset berikutnya mereka menganjurkan studi panel yang mengikuti pekerja dari waktu ke waktu, wawancara kualitatif yang dipadukan dengan survei besar, serta data objektif seperti catatan perusahaan tentang absen sakit dan kecelakaan kerja. Sensor yang dikenakan di tubuh mereka sebut dapat menakar tuntutan fisik dan lingkungan secara langsung.

Dalam rantai riset tentang iklim dan kerja, kajian ini menambahkan satu perbandingan berskala besar dari Jerman. Simpulan para penelitinya adalah bahwa tuntutan kerja secara konsisten berkaitan dengan bertambahnya keluhan kesehatan, sedangkan otonomi dan dukungan sosial berperan menguntungkan bagi kesejahteraan pekerja. Mengingat besarnya keragaman di dalam tiap kelompok, mereka menulis bahwa intervensi yang seragam mungkin tidak memadai.

Bagikan

Baca Juga

Tumbuhan Obat Suku Moronene Ada 57, Sagu Paling Bernilai Budaya
Tidur Singkat atau Panjang, Anak Muda Jepang Lebih Jarang Sarapan
Remaja Gemuk Tetap Lebih Rentan Dirundung di Negara yang Aman
Hampir Satu dari Tiga Lansia di Asia Selatan Mengalami Kekerasan
Satu dari Empat Tenaga Kesehatan Bangladesh Idap Penyakit Ganda
Thailand 18 Tahun Melatih Tenaga Kesehatan Hadapi Flu Pandemi