Ekonomi Jepang Tumbuh 1,1 Persen, Di Bawah Perkiraan Pasar

Warga berbelanja camilan di sebuah toko kue di Tokyo, Jepang, 28 Juli 2026.

Warga berbelanja camilan di sebuah toko kue di Tokyo, Jepang, 28 Juli 2026. [Foto: Manami Yamada/Reuters]

Cekricek.id — Perekonomian Jepang tumbuh lebih lambat daripada perkiraan pada kuartal kedua 2026. Kantor Kabinet Jepang melaporkan produk domestik bruto periode April sampai Juni naik 1,1 persen secara disetahunkan, jauh di bawah proyeksi pasar sebesar 2 persen. Secara kuartalan, pertumbuhan hanya 0,3 persen, sementara pasar memperkirakan 0,5 persen.

Dikutip dari laporan Reuters yang dimuat Investing.com, investing.com, Senin (17/8/2026), pelemahan terjadi pada dua mesin utama permintaan domestik. Konsumsi swasta turun 0,02 persen, padahal pasar memperkirakan kenaikan 0,5 persen. Belanja modal dunia usaha justru menyusut 1,2 persen dari kuartal Januari sampai Maret. Permintaan eksternal bersih menyumbang 0,5 poin persentase, satu-satunya komponen yang menahan pertumbuhan agar tetap positif.

Menteri Ekonomi Jepang, Minoru Kiuchi, menilai arah pemulihan belum berubah meski angkanya mengecewakan. “Perekonomian tetap berada di jalur pemulihan yang moderat, dengan pertumbuhan yang digerakkan ekspor mengimbangi kelemahan pada permintaan domestik,” kata Minoru Kiuchi.

Baca juga: KADI Selidiki Dumping Polimer Penyerap Super Asal Tiongkok

Konsumsi Rumah Tangga Tertekan

Angka kuartal kedua ini lebih lemah dibanding kuartal sebelumnya. Menurut laporan Al Jazeera, aljazeera.com, Senin (17/8/2026), perekonomian Jepang tumbuh 0,5 persen secara kuartalan pada Januari sampai Maret 2026. Reuters mencatat angka kuartal pertama itu setara 1,9 persen disetahunkan setelah direvisi naik.

Ekonom senior Meiji Yasuda Research Institute, Kazutaka Maeda, menyoroti rincian di balik angka utama. “Pertumbuhannya positif, tetapi rinciannya agak lebih lemah daripada yang diperkirakan,” ujar Kazutaka Maeda.

Biaya Energi Jadi Beban Baru

Dikutip dari Xinhua, english.news.cn, Senin (17/8/2026), kuartal April sampai Juni 2026 merupakan kuartal penuh pertama yang mencerminkan dampak konflik di Timur Tengah, yang mendorong naik harga energi bagi dunia usaha maupun rumah tangga. Pada periode yang sama ekspor Jepang naik 0,5 persen sementara impor turun 1,5 persen.

Baca juga: Harga Minyak Melonjak, Brent Naik 6 Persen Sepekan Imbas Serangan Tanker

Ekonom utama untuk Jepang di Oxford Economics, Norihiro Yamaguchi, memperkirakan sokongan dari ekspor tidak akan cukup besar. “Meskipun ekspor barang terkait kecerdasan artifisial akan tetap kuat dalam waktu dekat, aktivitas ekonomi global yang lesu di luar sektor kecerdasan artifisial akan membatasi keseluruhan kenaikan ekspor,” tutur Norihiro Yamaguchi.

Norihiro Yamaguchi juga memperkirakan pertumbuhan pada paruh kedua 2026 akan tetap lesu karena perusahaan mulai membebankan kenaikan biaya energi kepada konsumen. Kondisi itu berpotensi menekan lebih jauh konsumsi rumah tangga yang pada kuartal kedua sudah tidak tumbuh.

Ekonom eksekutif senior Dai-ichi Life Research Institute, Yoshiki Shinke, memandang hasil ini masih bisa dibaca positif. “Secara keseluruhan, saya kira kita bisa mengatakan bahwa perekonomian tetap bertahan meskipun pertumbuhannya lebih lambat daripada perkiraan,” sebut Yoshiki Shinke.

Baca juga: BI Luncurkan Kartu Kredit Indonesia dan Perluas MDR QRIS 0 Persen

Rilis ini muncul menjelang rapat dewan kebijakan Bank of Japan pada 17 sampai 18 September 2026. Suku bunga acuan Jepang saat ini bertahan di level 1 persen, tingkat tertinggi dalam 31 tahun, setelah kenaikan terakhir pada Juni 2026. Pelaku pasar masih memperhitungkan peluang besar terjadinya kenaikan suku bunga berikutnya pada rapat September tersebut.

Baca Juga

Ilustrasi seorang pegawai memeriksa berkas di meja kerja.
Konsolidasi Pengadaan Pemerintah Berpotensi Hemat Rp360 Triliun
Ilustrasi suasana pusat perbelanjaan modern.
Ekonomi China Melambat, Ritel Juli Naik Hanya 0,6 Persen
Ilustrasi penandatanganan kesepakatan dalam sebuah konferensi.
Bursa Mineral dan Komoditas Strategis Beroperasi 1 Januari 2027
Pendiri dan CEO Thrive Capital Joshua Kushner dalam sebuah forum.
Bos Thrive Capital Kritik Euforia Investasi AI Silicon Valley
Ilustrasi pembayaran nirsentuh menggunakan telepon pintar.
BI Luncurkan Kartu Kredit Indonesia dan Perluas MDR QRIS 0 Persen
Ilustrasi pelaku usaha kecil menjajakan hasil pertanian.
Inovasi UGM Jadi SNI Pertama Kewirausahaan Gotong Royong