Cekricek.id — Pemerintah Kabupaten Solok membuka peluang investasi hijau lewat forum penjajakan kerja sama dengan delegasi Republik Korea, yang membahas sederet sektor mulai dari pengelolaan sampah, ekonomi sirkular, energi terbarukan, hingga pasar karbon internasional.
Dikutip dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Solok, infopublik.solokkab.go.id, Selasa (11/8/2026), forum berlangsung di Istana Gubernur Sumatera Barat pada hari yang sama, melanjutkan penjajakan kerja sama dan rencana investasi Korea Selatan yang sebelumnya sudah dibahas bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.
Sampah Jadi Sumber Daya, Bukan Beban
Wakil Bupati Solok, H. Candra, mewakili daerahnya dalam forum tersebut. Ia menegaskan penjajakan itu menjadi momentum strategis membuka akses investasi, teknologi, dan pengetahuan pengelolaan lingkungan berkelanjutan bagi Kabupaten Solok.
“Kita harus mulai melihat persoalan lingkungan bukan hanya sebagai beban pemerintah, tetapi juga sebagai ruang untuk menghadirkan inovasi,” kata Candra.
Menurutnya, ekonomi sirkular menawarkan paradigma baru mengelola sampah sebagai sumber daya, bukan sekadar limbah yang dibuang. Kabupaten Solok, kata Candra, membutuhkan terobosan semacam itu untuk menjawab tantangan pertumbuhan penduduk dan peningkatan volume sampah dari waktu ke waktu.
Bukan Sekadar Soal Modal Masuk
Sektor strategis yang dibahas dalam forum ini juga mencakup pengurangan emisi gas rumah kaca, pemanfaatan gas metana dari tempat pemrosesan akhir sampah, kredit karbon, dan pengembangan pasar karbon internasional. Candra menilai nilai kerja sama semacam ini tidak boleh diukur hanya dari besaran modal yang masuk.
“Kita ingin belajar bagaimana daerah lain dan negara yang teknologinya lebih maju mengelola persoalan ini,” ujarnya. Ia menambahkan, “Investasi harus memberikan nilai tambah. Kita harus melihat kelayakannya, dampak lingkungannya, dan manfaat jangka panjangnya.”
Masih Tahap Penjajakan
Candra menyebut Kabupaten Solok punya potensi besar di sektor pertanian, kawasan hutan, dan sumber daya alam yang bisa dikembangkan lewat pendekatan pembangunan hijau, asalkan seluruh potensi itu dipetakan cermat agar investasi yang masuk benar-benar sesuai kebutuhan daerah. Ia menekankan forum ini baru pada tahap penjajakan dan identifikasi potensi, belum kepastian investasi.
“Setelah FGD, pekerjaan kita adalah melihat apa yang benar-benar bisa dikembangkan di Kabupaten Solok,” ujarnya. Tindak lanjut forum ini membutuhkan keterlibatan aktif dinas terkait investasi dan lingkungan hidup di Kabupaten Solok.
Bagian dari Rentetan Penjajakan Investor Asing ke Sumbar
Forum dengan delegasi Korea ini menambah daftar penjajakan investasi asing ke Sumatera Barat dalam setahun terakhir. Provinsi ini sebelumnya juga menerima kunjungan investor asal Jepang, PT Awina Sinergi Internasional, yang menjajaki sektor energi terbarukan dan pengelolaan sampah, serta mengusulkan proyek tambak udang senilai Rp7,2 triliun di Kepulauan Mentawai kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Baca juga: Sumbar Jadi Provinsi Pertama Program Pemulihan Ekraf, 100 Pelaku UMKM Dilatih di Padang
Kabupaten Solok sendiri baru sepekan sebelumnya menjalin kerja sama pendidikan dan pariwisata dengan Institut Teknologi Bandung. Forum dengan delegasi Korea menambah babak baru penjajakan kerja sama lintas sektor yang tengah dirintis daerah itu, meski Candra menegaskan seluruhnya masih perlu dikaji sebelum benar-benar terealisasi.




















