Kebakaran Hutan Lahap 100 Ribu Hektare, Sekolah di Pontianak Belajar dari Rumah

Asap tebal membubung dari kebakaran hutan di kawasan berhutan

Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan yang menghasilkan asap tebal. [Foto: Ilustrasi/Pexels]

Cekricek.id — Kebakaran hutan dan lahan yang meluas di sejumlah provinsi telah menghanguskan lebih dari 100 ribu hektare lahan dan menarik pengerahan hampir 50 ribu petugas pemadam. Puluhan sekolah masih diliburkan pada hari kedua, Selasa, karena kualitas udara memburuk akibat asap.

Mengutip Al Jazeera, Selasa (11/8/2026), Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono memerintahkan sekolah ditutup setelah asap dari kebakaran di wilayah lain mengepung kota di Kalimantan Barat itu. Kegiatan belajar dialihkan ke rumah sampai udara membaik.

“Anak-anak akan belajar dari rumah selama kualitas udara masih buruk,” kata Edi Rusdi Kamtono.

Enam Provinsi Jadi Prioritas Penanganan

Penanganan dipusatkan di enam provinsi, yakni Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan di Pulau Sumatera, serta Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan di Pulau Kalimantan. Fenomena El Nino disebut memperpanjang periode kering di seluruh kepulauan sehingga risiko api melonjak. El Nino adalah gejala iklim alami yang mengubah pola angin, tekanan udara, dan curah hujan di banyak belahan dunia, dan di kawasan Asia Selatan serta Asia Tenggara umumnya membawa kondisi lebih kering.

Menteri koordinator bidang keamanan Djamari Chaniago menyatakan pemerintah bersiaga penuh karena kondisi cuaca membuat titik api mudah membesar dalam hitungan jam.

“Kami bersiaga karena kondisi cuaca benar-benar memungkinkan kebakaran ini menjadi lebih besar,” kata Djamari Chaniago. “Karena itu kami mengawasi bahkan perubahan cuaca sekecil apa pun. Setiap kali ada peluang terbentuknya awan hujan, kami langsung menjalankan operasi modifikasi cuaca.”

Hujan Buatan dan Pengeboman Air

Upaya modifikasi cuaca dijalankan dengan menyemai awan memakai bahan kimia seperti perak iodida dan garam. Teknik itu diperkirakan mampu menambah curah hujan hingga 15 persen. Lebih dari selusin pesawat dikerahkan untuk penyemaian awan di berbagai wilayah, didampingi 43 helikopter yang membantu regu pemadam di darat.

Kebakaran di lahan gambut dan hutan sekunder menjadi tantangan tersendiri karena api kerap menjalar di bawah permukaan. Regu pemadam tetap mengawasi area yang masih membara untuk mencegah api menyala kembali setelah dipadamkan.

Api di Bromo Tengger Semeru Mereda

Pada Selasa, lebih dari 150 personel bekerja memadamkan sisa api di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur. Kebakaran di sana telah menghanguskan sekitar 900 hektare lahan sejak muncul sembilan hari lalu, tetapi kini sebagian besar sudah terkendali dan luasannya menyusut menjadi sekitar dua hektare.

Luas Lahan Terbakar Melonjak Dua Kali Lipat

Data Kementerian Kehutanan menunjukkan lebih dari 107 ribu hektare lahan di seluruh Indonesia terdampak kebakaran sepanjang Januari hingga Juni. Angka itu naik 110 persen dibandingkan periode yang sama pada 2023, tahun terakhir El Nino memengaruhi Indonesia.

Kualitas udara menjadi persoalan utama yang menyertai kebakaran tahun ini, terutama di kota-kota yang berada di arah embusan asap. Penutupan sekolah di Pontianak berlaku selama udara belum dinyatakan aman, tanpa batas waktu yang ditetapkan lebih dulu.

Selain Kalimantan Barat, provinsi lain yang menjadi prioritas juga menghadapi asap dari kebakaran lahan yang berlangsung berhari-hari. Pemantauan titik api serta operasi pemadaman karhutla masih berjalan di enam provinsi tersebut sembari menunggu peluang cuaca untuk penyemaian awan berikutnya.

Baca Juga

Ilustrasi lanskap kota Islamabad dari udara
Pakistan Bentuk Komisi Independen Hak Minoritas pada Hari Minoritas Nasional
Menara radar cuaca C-Band milik BMKG di Muara Teweh
Radar Cuaca C-Band Muara Teweh Beroperasi, Jangkauan 250 Kilometer untuk Pantau Karhutla
Ilustrasi anak-anak belajar di ruang kelas darurat
Pendaftaran Sekolah Makkah di Gaza Selatan Dibuka, Seribu Murid pada Tahap Pertama
Ilustrasi deretan tenda darurat dari udara
Bulan Sabit Merah Palestina Buka Rumah Sakit Lapangan Keenam di Gaza Utara
Ilustrasi petugas kesehatan mengenakan alat pelindung diri lengkap
WHO: Wabah Ebola di Kongo Sudah Menyebar Sejak Februari, Tiga Bulan Sebelum Diumumkan
Peserta pelatihan kesiapsiagaan bencana di Nagari Lasi, Kabupaten Agam
UNP Latih Bundo Kanduang Nagari Lasi Hadapi Galodo yang Berulang Sejak 1972