Daftar Isi
Kuas tidak dipegang. Yang dipegang adalah segumpal paper clay, lembar tisu, dan potongan majalah bekas, ditempelkan satu per satu di atas kanvas putih 50 x 60 sentimeter. Ayu Widari Syahfitri menyusunnya menjadi sesosok kucing yang matanya sengaja dibuat sayu, seolah sedang menikmati istirahat panjang setelah seharian berkeliaran mencari makan.
Karya itu ditulis Ayu Widari Syahfitri, Agus Priyatno, dan Adek Cerah Kurnia Azis dalam Cat Figures Using Assemblage Techniques as an Idea for Creating Two-Dimensional Artworks, terbit di V-Art: Jurnal Seni Rupa volume 5 nomor 1, tahun 2025. Ketiganya berasal dari Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Medan, kampus tempat karya ini dipertanggungjawabkan sebagai tugas akhir.
Tiga Kanvas dari Bahan yang Jarang Dipakai
Dua belas kanvas kosong sempat disiapkan, lengkap dengan pensil, lem, paper clay, tisu, dan tumpukan majalah bekas. Namun yang akhirnya dipertanggungjawabkan penuh hanya tiga: Sobriety, Roof King, dan The Myth of a Black Cat. Ketiganya berukuran sama, 50 x 60 sentimeter, memakai media yang sama pula, tisu dan potongan majalah yang ditempel berlapis.
Bahan yang dipilih memang tidak lazim untuk kolase mahasiswa seni rupa. Ayu menulis, bahan-bahan itu jarang dipakai dalam tugas akhir sejenis, dan justru dari situ karyanya mendapat keunikan tersendiri. Teknik yang dipakai disebut assemblage, sebuah cabang dari kolase yang menyusun dan melapiskan berbagai objek, bukan sekadar menempel satu lembar gambar datar.
Sunaryo (2006) mendefinisikan kolase sebagai teknik menempelkan potongan bahan bekas atau sisa untuk membentuk karya visual baru. Sementara istilah assemblage, menurut Flaubert yang dikutip Buchanan (2021), adalah gagasan yang begitu umum dipahami sehingga tidak perlu dipikirkan secara kritis lagi; segala bentuk susunan atau pelapisan objek pun bisa disebut assemblage.
Objek kucing dipilih bukan tanpa sebab. Ayu menulis dirinya memelihara kucing sendiri, dan kedekatan itu menumbuhkan ketertarikan pada perilakunya yang unik sekaligus misterius. Ditambah fenomena kucing yang ramai jadi konten media sosial, dan mitos-mitos yang melekat padanya, objek itu dianggap layak diangkat ke dalam karya seni rupa dua dimensi.
Ketenangan di Bawah Bulu Cokelat-Jingga
Di kanvas pertama, kucing digambarkan diam dengan mata terpejam sebagian, bulu cokelat-jingga menabrak latar pastel putih, abu-abu, dan merah muda. Judulnya Sobriety, ketenangan. Ayu menjelaskan pose itu meniru kebiasaan kucing yang pulang setelah mengembara, mencari makan, kadang terlibat perkelahian, lalu akhirnya menepi ke tempat aman untuk beristirahat sepenuhnya.
Naluri itu, tulis Ayu, berakar dari kebutuhan kucing mencari kehangatan sejak masih anak, sebagai bagian dari insting bertahan hidup. Suhu tubuh kucing sedikit lebih tinggi dari manusia, sehingga ia cenderung memburu sumber panas. Aktivitas melompat dan bermain yang sering dilakukannya membuat otot dan persendian butuh pemulihan, dan kehangatan itu mempercepat prosesnya.
Kehangatan, menurut Ayu, mendorong relaksasi yang membuat kucing merasa aman dan nyaman, sering kali sampai tertidur lebih pulas. Postur kucing dalam karya ini, yang seolah menyatu dengan latar belakangnya, digambarkan sebagai tanda ia benar-benar merasa nyaman di lingkungannya, memperkuat kesan damai dan tenteram yang ingin disampaikan lewat keseluruhan komposisi kanvas.
Latar berupa serpihan kertas warna-warni berbagai ukuran disusun tanpa pola tegas, sengaja dibuat abstrak. Ayu menyebut pola acak itu bisa dimaknai sebagai gambaran mimpi atau pikiran yang melambat. Kucing tetap jadi pusat perhatian karena kontras antara bentuknya yang realistis dan latar belakang yang justru serba kabur dan tak berbentuk.
Baca juga Kucing, Jeruk, dan Gambar AI yang Kehilangan Gaya
Kemarahan di Atas Genteng
Kanvas kedua berbalik seratus delapan puluh derajat. Roof King menampilkan kucing dengan mulut terbuka lebar, bulu berdiri, dan mata melotot, seolah sedang menggeram keras. Ayu mengambil momen itu dari perilaku kucing sehari-hari, saat bulunya meremang dan tubuhnya menegang ketika merasa terancam oleh kehadiran hewan lain di sekitarnya.
Ekspresi itu, tulis Ayu, adalah bentuk komunikasi nonverbal sekaligus mekanisme pertahanan diri yang berevolusi demi menjamin kelangsungan hidup kucing. Mata yang melebar, bulu yang berdiri, dan mulut yang terbuka merupakan bahasa tubuh universal yang menandakan kemarahan, ketakutan, atau kewaspadaan tinggi terhadap ancaman yang datang mendekat.
Posisi kucing di atas atap dipilih bukan tanpa alasan. Ayu menulis tempat tinggi itu menegaskan kucing sedang mempertahankan wilayahnya sendiri. Semakin kuat ancaman yang datang, semakin keras pula reaksi yang ditunjukkan, dan ekspresi marah itu dibaca sebagai jejak pengalaman buruk dengan hewan lain yang membuatnya waspada terhadap penyusup baru.
Secara keseluruhan, Ayu memaknai karya ini sebagai sindiran sosial terhadap sikap manusia pada alam dan sesama makhluk hidup. Ekspresi geram kucing itu disandingkan dengan cara manusia yang kerap disibukkan urusan duniawi atau kebiasaan melanggar batas dan hak orang lain, sehingga karya seekor kucing marah ini melebar maknanya ke perilaku manusia.
Kucing Hitam dan Mitos yang Menempel di Bulunya
Kanvas ketiga berpindah dari perilaku ke kepercayaan. The Myth of a Black Cat menampilkan kucing berbulu hitam pekat dengan latar biru dan jingga, ditemani bulan sabit di belakangnya. Ayu menulis karya ini terinspirasi mitos yang beredar di berbagai budaya, termasuk keyakinan bahwa kucing hitam membawa sial atau dikaitkan dengan makhluk gaib tertentu.
Ayu menelusuri asal mitos itu sampai ke Eropa abad pertengahan, ketika kucing hitam dianggap jelmaan penyihir atau roh jahat. Kepercayaan itu, tulisnya, terus diwariskan lewat tradisi lisan, keyakinan keagamaan, sastra, dan media, sampai membentuk pandangan negatif yang bertahan hingga sekarang, jauh dari tempat dan zaman ketika mitos itu pertama kali muncul.
Warna biru dan jingga sengaja disandingkan untuk membangun suasana kontras, tenang berbenturan dengan energi. Bulan sabit di belakang kucing dipilih karena kerap dikaitkan dengan siklus hidup, perubahan, dan kekuatan magis, menambah kesan misterius yang ingin dihadirkan Ayu lewat gabungan latar dan sosok kucing hitam yang gelap pekat tersebut.
“Warna kucing hitam yang berbeda dari kucing pada umumnya tidak menjadikan sial dan keberuntungan tersendiri,” tulis Ayu Widari Syahfitri dalam bagian pembahasan karyanya. Kalimat itu sudah ditulis penulis dalam bahasa Indonesia, sekaligus menjadi inti pesan yang ingin disampaikan lewat kanvas ketiga ini kepada penikmatnya.
Baca juga Karpet Salah Tempat di Pameran Furnitur Bertutur
Tiga Tahap dari Dunia Tari
Ketiga kanvas itu lahir lewat kerangka kerja yang sebenarnya bukan berasal dari seni rupa. Ayu memakai metode Alma M. Hawkins, penulis buku Creating Through Dance yang diterjemahkan R. M. Soedarsono pada 2001, terdiri dari eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan. Metode itu awalnya dirancang untuk penciptaan tari, lalu dipinjam Ayu untuk karya dua dimensi.
Pada tahap eksplorasi, Ayu mengamati langsung kucing peliharaan dan kucing liar di sekitarnya, dipadukan dengan bacaan tentang mitos kucing dari berbagai artikel. Tahap improvisasi dipakai untuk menguji bahan dan teknik assemblage sebelum bentuk final ditetapkan, sedangkan tahap pembentukan adalah saat ketiga lapisan material ditempel bertahap sampai karya benar-benar selesai.
Proses berlapis itu punya urutan tetap. Lapisan pertama paper clay membangun tekstur dan bentuk dasar, lapisan kedua tisu polos meratakan permukaan yang tidak rata, dan lapisan ketiga potongan gambar majalah beserta bahan tambahan ditempel secara intuitif, mengikuti dorongan emosi tanpa mengabaikan keseimbangan gelap terang dan komposisi visual.
Proses itu diakui sendiri tidak mudah oleh penulis. Perubahan proporsi bentuk akibat tekstur paper clay dan retakan yang muncul selama pengeringan sempat menjadi kendala nyata. Ayu menulis kendala itu diatasi lewat penyesuaian teknik dan penguatan material, bukan dengan mengganti bahan yang sudah dipilih sejak tahap eksplorasi.
Yang perlu diingat, temuan dalam naskah ini berasal dari satu pencipta dengan tiga karya, bukan survei terhadap banyak seniman kolase. Ayu sendiri menyebut hasil akhirnya sebagai proyek pribadi yang mencerminkan pengalaman dan kedekatannya dengan kucing peliharaan, sehingga pemaknaan tiap karya tidak otomatis berlaku untuk kolase assemblage bertema fauna lainnya.
Ada hal kecil yang bisa dicermati pembaca sendiri di naskah aslinya. Bagian abstrak menyebut tiga tahap Hawkins sebagai eksplorasi, eksperimentasi, dan realisasi, sementara bagian metode menuliskannya sebagai eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan. Istilah tahap kedua berbeda di dua bagian naskah, padahal keduanya sama-sama merujuk sumber yang persis sama, Soedarsono 2001.
Kejanggalan lain ada pada bahasa naskah. Seluruh bagian, dari abstrak sampai pembahasan, ditulis dalam bahasa Inggris. Namun begitu masuk bagian simpulan, penulis berpindah penuh ke bahasa Indonesia tanpa keterangan apa pun. Perubahan itu tidak mengubah isi simpulannya, tetapi cukup mencolok untuk jurnal yang konsisten berbahasa Inggris di seluruh bagian lain.
Baca juga Sungai Batang Tembesi Keruh Dilukis dalam Kilau Senja
Sobriety selesai dengan mata terpejam, Roof King selesai dengan mulut terbuka, dan kucing hitam selesai dengan mitosnya yang dipatahkan sendiri oleh penciptanya. Tiga ekspresi berbeda, satu hewan yang sama, ditempel lapis demi lapis dari bahan yang sebenarnya bukan untuk melukis. Paper clay mengering, tisu merapikan permukaannya, majalah menutup lapisan terakhir, dan kucing itu pun diam tenang di kanvasnya, menunggu ditafsirkan setiap orang yang memandanginya.















