Modal Intelektual Tak Menyentuh Kinerja Emiten Konsumen Primer

A A

Ilustrasi pembacaan laporan keuangan perusahaan. [Foto: RDNE Stock project/Pexels]

  • Modal intelektual tidak terbukti memengaruhi kinerja keuangan pada 300 amatan yang diuji.
  • Dewan direksi dan komisaris independen nyata pada model pertama, lalu kehilangan tanda nyatanya pada model kedua.
  • Komisaris independen hanya bekerja pada tahap matang, yang menampung 169 dari 300 amatan.
  • Daya jelas modelnya 10,20 persen, sisanya diakui berasal dari faktor di luar penelitian.
  • Koefisien modal intelektual berpindah tanda antara dua model pada halaman yang sama.
Daftar Isi
  1. Tiga Ratus Amatan dari Empat Tahun Laporan
  2. Lima Tahap yang Dibaca dari Pola Arus Kas
  3. Model Pertama: Dua Penentu yang Nyata
  4. Model Kedua: Yang Berubah Sesudah Tahap Hidup Masuk
  5. Saat Datanya Dipecah per Tahap
  6. Angka yang Tidak Cocok dengan Hitungannya Sendiri

Sepanjang 2019 sampai 2022, laporan keuangan 75 perusahaan barang konsumen primer di Bursa Efek Indonesia dibaca tahun demi tahun. Dari 300 amatan yang terkumpul, modal intelektual tidak terbukti menyentuh kinerja keuangan perusahaan-perusahaan itu. Yang terbukti justru dua hal yang lebih sederhana: jumlah anggota direksi dan porsi komisaris independen.

Pengukuran itu ditulis Laila Dzirwatun Nisa dan Sri Hastuti dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta, dalam artikel Intellectual Capital, Corporate Governance, and Financial Performance: The Role of Company Life Cycle di Jurnal Economia, Volume 22 Nomor 2 tahun 2026, halaman 277–295.

Tiga Ratus Amatan dari Empat Tahun Laporan

Populasinya seluruh perusahaan barang konsumen primer yang tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 2019 sampai 2022. Dari 78 perusahaan yang tercatat dan tidak dikeluarkan dari bursa selama rentang itu, tiga perusahaan tidak menerbitkan laporan keuangan lengkap sepanjang keempat tahun tersebut, sehingga sampelnya menyusut menjadi 75 perusahaan.

Jumlah itu dikalikan empat tahun pengamatan dan menghasilkan 300 amatan. Datanya diambil dari laman resmi bursa dan laman perusahaan masing-masing, lalu diolah dengan perangkat lunak SPSS 23. Pemilihan sampelnya memakai cara bertujuan, bukan acak, sehingga yang masuk hanya perusahaan yang memenuhi syarat yang sudah ditetapkan lebih dulu.

Empat hal diukur sebagai penentu. Modal intelektual, jumlah anggota dewan direksi, proporsi komisaris independen, dan frekuensi rapat komite audit. Tahap daur hidup perusahaan dipakai sebagai pemoderasi, yaitu peubah yang diuji apakah memperkuat atau memperlemah hubungan keempatnya dengan kinerja keuangan.

Kinerja keuangannya sendiri diwakili imbal hasil aset, yang mengukur seberapa efisien aset perusahaan dipakai menghasilkan laba. Modal intelektualnya diwakili koefisien nilai tambah intelektual yang dimodifikasi, rumusan Ulum pada 2015 yang menambahkan modal relasional ke dalam rumus koefisien nilai tambah intelektual yang lebih dulu ada.

Baca juga Indeks Kesehatan Bank Syariah Lebih Stabil daripada Konvensional

Lima Tahap yang Dibaca dari Pola Arus Kas

Tahap daur hidup tidak ditanyakan kepada perusahaan, melainkan dibaca dari tanda arus kasnya. Kombinasi tanda pada arus kas operasi, investasi, dan pendanaan dipetakan menjadi lima tahap: lahir, tumbuh, matang, guncang, dan surut. Pemetaan itu mengikuti rumusan Dickinson pada 2011.

Pada tahap lahir, ketiga arus kasnya bertanda negatif, negatif, dan positif. Pada tahap matang, arus kas operasinya positif sementara arus investasi dan pendanaannya negatif. Tahap tumbuh ditandai arus kas operasi positif dengan arus investasi dan pendanaan yang masih negatif dan positif. Tahap guncang punya tiga kombinasi tanda sekaligus, dan tahap surut dua kombinasi.

Sesudah dipetakan, tahapnya diberi skala nominal satu sampai lima untuk masuk ke pengujian. Hasil pemetaannya tidak merata. Tahap matang menampung 169 amatan atau 56,3 persen, jauh melampaui tahap tumbuh dengan 46 amatan dan tahap lahir dengan 44 amatan.

Tahap matang menampung lebih dari separuh amatan169 dari 300, atau 56,3%.Tahap matang menampung lebih dari separuhamatanSebaran 300 amatan menurut tahap daur hidup perusahaan131 empat tahap lain169 tahap matang (56,3%)Total 300Tahap guncang berisi 26 amatan dan tahap surut 15 amatan.
Sumber: Nisa dan Hastuti, Intellectual Capital, Corporate Governance, and Financial Performance: The Role of Company Life Cycle, Jurnal Economia, 22(2), 2026, hlm. 277–295. Grafik: Cekricek.id

Dua tahap terakhir paling tipis. Tahap guncang berisi 26 amatan atau 8,7 persen, dan tahap surut 15 amatan atau 5,0 persen. Penulisnya menyebut tahap matang menjadi yang terbesar karena sebagian besar perusahaan yang sudah tercatat di bursa memang berada pada tahap itu.

Gambaran imbal hasil aset per tahap juga disusun penulisnya. Perusahaan tahap lahir kebanyakan mencatat imbal hasil aset negatif, perusahaan tahap matang berada di puncaknya, dan perusahaan tahap surut kembali kebanyakan negatif. Urutan itu yang menjadi dasar dugaan bahwa tahap daur hidup ikut menentukan.

Model Pertama: Dua Penentu yang Nyata

Pengujian pertama dijalankan tanpa memasukkan tahap daur hidup sebagai pemoderasi. Di model itu, jumlah anggota dewan direksi berkoefisien 0,012 dan proporsi komisaris independen berkoefisien 0,258, keduanya ditandai nyata pada taraf satu persen, yang berarti keduanya bergerak searah dengan imbal hasil aset perusahaan.

Dua penentu lain tidak lolos. Modal intelektual berkoefisien minus 9,329 tanpa tanda nyata, dan frekuensi rapat komite audit minus 0,003, juga tanpa tanda nyata. Nilai F model pertama 9,478 dan ditandai nyata pada taraf satu persen, yang berarti keempat penentu itu secara bersama-sama tetap berarti bagi modelnya.

Penulisnya membaca hasil itu sebagai penolakan atas dugaan pertama mereka sendiri. Modal intelektual disebut tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan karena manfaatnya kemungkinan belum terasa pada rentang waktu yang diamati.

Rapat komite audit juga tidak terbukti pada model itu. Frekuensi rapat, menurut penulisnya, tidak dengan sendirinya berarti pengawasan berjalan, sehingga jumlah pertemuan tidak cukup untuk menerangkan naik atau turunnya imbal hasil aset perusahaan yang diamati.

Model Kedua: Yang Berubah Sesudah Tahap Hidup Masuk

Pengujian kedua memasukkan tahap daur hidup beserta empat suku interaksinya. Sesudah itu, dua penentu yang tadinya nyata berbalik tanda dan kehilangan tanda nyatanya: dewan direksi menjadi minus 0,014 dan komisaris independen menjadi minus 0,152.

Yang menggantikan keduanya adalah suku interaksinya. Interaksi dewan direksi dengan tahap daur hidup berkoefisien 0,009 dan interaksi komisaris independen dengan tahap daur hidup 0,162, keduanya nyata pada taraf lima persen. Modal intelektual sendiri tercatat 6,179 dan ditandai nyata pada taraf yang sama.

Interaksi modal intelektual dengan tahap daur hidup berkoefisien minus 8,473 tanpa tanda nyata, begitu pula interaksi rapat komite audit yang minus 0,003. Nilai F model kedua 6,802 dan tetap nyata pada taraf satu persen.

Dua penentu yang nyata, lalu hilang tanda nyatanyaDua penentu yang nyata, lalu hilang tanda nyatanyaDua penentu yang nyata, lalu hilang tandanyatanyaKoefisien regresi sebelum dan sesudah tahap daur hidupdimasukkanModel pertamaModel kedua-9,3296,179Modal intelektual0,012-0,014Dewan direksi0,258-0,152Komisarisindependen-0,0030,005Rapat komite audit9,4786,802Nilai FModel kedua menambahkan tahap daur hidup beserta empat sukuinteraksinya.
Sumber: Nisa dan Hastuti, Intellectual Capital, Corporate Governance, and Financial Performance: The Role of Company Life Cycle, Jurnal Economia, 22(2), 2026, hlm. 277–295. Grafik: Cekricek.id

Dari susunan itu penulisnya menarik dua simpulan moderasi. Tahap daur hidup dinyatakan mampu memoderasi pengaruh dewan direksi dan komisaris independen terhadap kinerja keuangan, tetapi tidak mampu memoderasi pengaruh modal intelektual maupun frekuensi rapat komite audit terhadap kinerja keuangan yang sama.

Baca juga Efek Teknologi pada Penyerapan Tenaga Kerja Lewat Investasi

Daya jelas kedua model itulah yang paling terbatas. Nilai R kuadrat terkoreksinya 0,102, yang berarti kelima peubah bebasnya hanya menjelaskan 10,20 persen ragam kinerja keuangan. Sisanya, 89,8 persen, diakui penulisnya berasal dari faktor di luar penelitian tersebut.

Saat Datanya Dipecah per Tahap

Uji ketegaran dijalankan dengan memecah data menurut kelima tahap, lalu menjalankan model yang sama di tiap pecahan. Hasilnya menyempit tajam. Dari 20 koefisien yang diuji pada kelima tahap, hanya dua yang lolos taraf lima persen, dan keduanya berasal dari dua tahap yang berbeda jauh ukurannya.

Yang pertama proporsi komisaris independen pada tahap matang, dengan koefisien 0,276, galat baku 0,068, nilai t 4,030, dan peluang 0,000. Itu satu-satunya tahap ketika komisaris independen bekerja, dan itu pula tahap yang menampung 169 dari 300 amatan, atau lebih dari separuh seluruh data yang diuji.

Yang kedua justru bertanda minus. Frekuensi rapat komite audit pada tahap guncang berkoefisien minus 0,014 dengan galat baku 0,005, nilai t minus 2,852, dan peluang 0,010. Tahap itu hanya berisi 26 amatan, atau 8,7 persen dari seluruh data yang diuji.

Di tahap tumbuh, jumlah anggota dewan direksi berkoefisien 0,008 dengan peluang 0,091, jadi lolos taraf sepuluh persen tetapi tidak lolos lima persen. Di tahap lahir, tidak satu pun dari empat penentunya mendekati batas, dengan peluang terkecil 0,262.

Modal intelektual gagal di seluruh tahap tanpa kecuali. Penulisnya mencatat peluangnya melewati 0,05 pada tahap lahir, tumbuh, matang, guncang, maupun surut, lalu menyimpulkan pengaruh modal intelektual terhadap kinerja keuangan tidak selalu ajek dan bisa berbeda dari satu tahap ke tahap berikutnya.

Hal yang sama berlaku pada dewan direksi. Peluangnya juga melewati 0,05 pada kelima tahap, sehingga di tabel pecahan itu tidak ada satu tahap pun ketika jumlah anggota direksi menerangkan kinerja keuangan, meskipun tabel utamanya menandai peubah tersebut nyata pada taraf satu persen.

Angka yang Tidak Cocok dengan Hitungannya Sendiri

Koefisien modal intelektual berpindah tanda antara dua model di halaman yang sama. Di model pertama angkanya minus 9,329, di model kedua plus 6,179, dan suku interaksinya minus 8,473. Naskahnya tidak menerangkan mengapa arahnya berbalik, dan tidak pula menyebut satuan yang membuat ketiganya sebesar itu.

Besaran ketiga angka itu juga janggal bila disandingkan dengan koefisien lain di tabel yang sama, yang berkisar 0,003 sampai 0,258. Pada tabel pecahan per tahap, koefisien modal intelektual justru tercetak 0,000 dengan galat baku 0,000 di keempat tahap, sehingga kedua tabel itu tidak berbicara tentang skala yang sama.

Tabel utama menandai dewan direksi dan komisaris independen nyata pada taraf satu persen, sedangkan tabel pecahan tidak menemukan satu pun tahap ketika dewan direksi nyata pada taraf lima persen, dan hanya satu tahap ketika komisaris independen nyata.

Satu hasil yang muncul di tabel pecahan juga tidak masuk simpulan. Rapat komite audit pada tahap guncang bertanda minus dan nyata, sementara simpulan naskahnya menyatakan tahap daur hidup tidak dapat memoderasi pengaruh rapat komite audit terhadap kinerja keuangan.

Baca juga Suku Bunga The Fed Berhenti di Pasar Uang, Bukan Sektor Riil

Yang bisa diperiksa siapa pun pada tabelnya adalah dua angka yang berdampingan: daya jelas 10,20 persen dan pengakuan penulisnya sendiri bahwa 89,8 persen ragam kinerja keuangan berasal dari hal yang tidak masuk model. Keduanya dicetak pada halaman yang sama dengan seluruh koefisien di atas.

Bagikan

Baca Juga

Perangkap Pendapatan Menengah ASEAN-4, Kurs Berbalik Arah
Dana Desa Belitung, Korelasinya dengan Kemiskinan Hanya 0,02
Kemiskinan Multidimensi Turun Tujuh Poin Saat Ambangnya Diganti
Pendapatan Asli Daerah Mamuju 6,68 Persen, Transfer 88,84
Religiusitas dan Otonomi Perempuan, Beda Hasil Dua Metode
Tiga Sektor Unggulan Yogyakarta Lolos dari Empat Metode