Cekricek.id — Pakistan mengundang Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf untuk berkunjung ke Islamabad. Undangan itu dikonfirmasi juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran pada Senin (10/8/2026), tanpa disertai jadwal pasti.
Araghchi dan Qalibaf akan melakukan lawatan tersebut “pada waktu yang tepat”, kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah Iran, Press TV. Ia tidak merinci kapan kunjungan itu akan berlangsung.
“Kunjungan dan pertukaran timbal balik adalah bagian yang wajar dari hubungan yang terus berkembang antara kedua negara bertetangga,” kata Baqaei, dikutip dari Anadolu.
Islamabad sebagai Perantara
Undangan itu datang ketika Pakistan menjalankan peran perantara antara Washington dan Teheran. Ketegangan di Timur Tengah memuncak setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran pada Februari. Teheran membalas dengan membidik negara-negara kawasan yang menampung aset militer AS.
Islamabad ikut menengahi upaya peredaan ketegangan, termasuk membantu menjembatani gencatan senjata pada April dan sebuah kesepakatan kerangka pada Juni. Kesepakatan itu ambruk bulan lalu. Kedua pihak kembali saling serang selama hampir dua pekan sebelum Presiden AS Donald Trump mendadak menghentikan pengeboman di tengah kabar perundingan untuk mengakhiri konflik.
Undangan kepada dua pejabat tinggi Iran itu menandai kelanjutan komunikasi antara Islamabad dan Teheran setelah rangkaian peristiwa tersebut. Baqaei tidak menjelaskan agenda yang akan dibahas maupun apakah kedua kunjungan akan berlangsung bersamaan.
Baca juga: Iran Rombak Pucuk Keamanan di Tengah Perundingan Selat Hormuz
Pakta Pertahanan Jadi Latar
Lawatan yang direncanakan itu muncul beberapa hari setelah Arab Saudi, Turki, dan Pakistan menandatangani pakta pertahanan bersama pada 7 Agustus 2026. Perjanjian tersebut memperlakukan serangan terhadap salah satu anggota sebagai serangan terhadap seluruhnya, dan menurut Kementerian Luar Negeri Pakistan dirancang untuk “memperkuat penangkalan kolektif”.
Baca juga: Arab Saudi, Turki, dan Pakistan Teken Pakta Pertahanan di Mekah
Baqaei, dalam konferensi pers mingguannya pada hari yang sama, membaca pakta itu sebagai tanda bergesernya cara pandang kawasan terhadap Amerika Serikat. Pernyataannya dikutip dari laporan AFP yang dimuat Arab News.
“Negara-negara di kawasan sudah menyadari bahwa keamanan bukanlah komoditas yang bisa dibeli dari pialang palsu,” ujar Baqaei, merujuk Amerika Serikat.
“Negara-negara di kawasan tidak bisa bersandar pada klaim keamanan yang disediakan AS seperti dulu,” katanya menambahkan.
Teheran Sebut Tak Khawatir
Ditanya soal kemungkinan pakta itu diarahkan kepada Iran, Baqaei menyatakan tidak ada alasan mengkhawatirkan hal tersebut. Ia menyebut Iran memiliki pertalian keagamaan, kesejarahan, dan peradaban dengan ketiga negara penanda tangan.
“Tidak ada alasan untuk khawatir bahwa perjanjian ini akan diarahkan terhadap Iran,” kata Baqaei.
Sejumlah analis membaca kesepakatan tersebut sebagai upaya menangkal Iran sekaligus menutup celah yang ditinggalkan keraguan atas keandalan Amerika Serikat di kawasan. Konflik AS-Iran sendiri sudah berjalan lima bulan, menyeret negara-negara tetangga ke dalam ketegangan kawasan, dan mengganggu jalur pelayaran yang melintasi Teluk.
Baca juga: Investor Waspadai Dampak Konflik Timur Tengah Terhadap Stabilitas Pasar Keuangan
Pakistan dan Iran berbagi perbatasan darat yang membentang di sepanjang wilayah Balochistan, dan keduanya sama-sama menjadi anggota Organisasi Kerja Sama Islam. Posisi geografis itu yang selama ini membuat Islamabad kerap ditempatkan sebagai penyambung pesan ketika komunikasi langsung antara Teheran dan Washington terputus.
Pihak Pakistan belum mengumumkan tanggal kunjungan Araghchi maupun Qalibaf, dan Kementerian Luar Negeri Iran tidak merinci lebih jauh isi undangan tersebut.





















