Cekricek.id — Sebuah perusahaan rintisan bernama Sequest berupaya menjadikan Arab Saudi sebagai pusat penyimpanan karbon jangka panjang dunia, dengan memanfaatkan satu hal yang selama ini dianggap kelemahan kerajaan itu: gurun yang nyaris tidak pernah basah.
Dikutip dari Al Arabiya English, Senin (10/8/2026), gagasannya bertumpu pada kondisi hiper-kering di sebagian besar wilayah Saudi. Curah hujan yang sangat rendah dan kelembapan udara yang minim menghambat proses pembusukan, sehingga bahan organik dapat bertahan jauh lebih lama dibanding di iklim lembap.
Menyetop Residu Pertanian sebelum Membusuk
Model kerja Sequest adalah mencegat residu pertanian — jerami, batang, dan sisa panen lain — sebelum bahan itu dibakar atau membusuk di lahan. Setiap tahun dunia menghasilkan lebih dari 7 miliar ton residu semacam itu, dan sebagian besar berakhir melepaskan kembali karbon yang sudah diserap tanaman selama masa tumbuhnya.
Alih-alih dibiarkan terurai, residu itu disimpan dalam bilik rekayasa di atas permukaan tanah. Pilihan menyimpan di atas tanah, bukan menyuntikkannya ke lapisan bawah bumi, membuat isi simpanan bisa diperiksa ulang sewaktu-waktu.
Baca juga: Gas Rumah Kaca, Muka Laut, dan Bahang Samudra Sama-sama Cetak Rekor pada 2025
Salah satu pendiri sekaligus Direktur Utama Sequest, Gary Ganz, menilai persoalan terbesar industri penyerapan karbon bukan pada teknologinya, melainkan pada bukti pengirimannya.
“Penyerapan karbon punya masalah pengiriman. Iklim tidak diuntungkan oleh satu ton yang dikontrakkan, hanya oleh satu ton yang benar-benar disampaikan,” kata Gary Ganz.
Persoalan yang ia maksud sudah lama membayangi pasar karbon sukarela. Banyak kredit diperjualbelikan berdasarkan janji penyerapan pada masa depan, sementara pembuktian bahwa karbonnya benar-benar tersimpan kerap datang belakangan atau tidak pernah datang sama sekali.
Biaya Ditekan lewat Truk dan Alat Berat
Ganz menyebut komponen biaya perusahaannya sengaja dibuat sederhana agar tidak bergantung pada kemajuan teknologi yang belum tentu datang.
“Masukan kami adalah pengangkutan truk, pekerjaan tanah, dan pemantauan, yang memungkinkan skala besar dengan biaya rendah per ton tanpa perlu menunggu kurva biaya menurun,” ujarnya.
Perbedaan pendekatan itu terasa bila dibandingkan dengan metode penangkapan karbon langsung dari udara yang menuntut instalasi mahal dan pasokan listrik besar. Sequest memilih jalur logistik yang perangkatnya sudah tersedia di banyak negara.
Fasilitas Horizon dan Ukuran yang Masih Kecil
Fasilitas pertama perusahaan, Horizon, telah lolos penilaian awal Puro.earth, salah satu standar sertifikasi penyerapan karbon yang banyak dirujuk pasar. Operasinya dijadwalkan dimulai pada akhir 2026 dengan target penyerapan 1.000 ton metrik karbon dioksida.
Lolosnya Horizon pada penilaian awal berarti metode dan cara penghitungannya dinilai layak diperiksa lebih lanjut, bukan berarti kreditnya sudah terbit. Tahap berikutnya menuntut pemantauan di lapangan setelah fasilitas benar-benar berjalan.
Angka itu setara dengan emisi tahunan sekitar 500 mobil penumpang di Inggris — kecil bila diukur terhadap emisi global, tetapi lazim untuk fasilitas percontohan yang tujuan utamanya membuktikan metode, bukan mengejar volume.
Baca juga: Debit Sungai Rhine Anjlok ke Rekor Terendah, Pelayaran Eropa Terancam Lumpuh
Bagi Arab Saudi, minat semacam ini menambah lapisan baru pada citra negara pengekspor minyak terbesar dunia. Bagi pasar karbon sendiri, ujiannya tetap sama seperti yang disebut Ganz: berapa banyak ton yang benar-benar tersimpan, bukan berapa banyak yang dijanjikan di atas kertas.
Baca juga: Enam Belas Pekerja Bangladesh Tewas dalam Kebakaran Pabrik Sofa di Riyadh




















