Tank, Manusia, dan Api Rangkai Tekad di Kanvas Digital

A A

Tangan menggambar menggunakan pena digital di atas tablet grafis. [Foto: Piknuz/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

Daftar Isi
  1. Sebelum dan Sesudah 2022
  2. Pradita dan Tekad sebagai Gagasan Utama
  3. Tank, Manusia, dan Api yang Menyatu
  4. Max Freeman dan Bold Determination
  5. Rajudin dan Bentuk yang Bermakna
  6. Keterbatasan Kajian
  7. Kejanggalan Naskah

Satu dekade terakhir mengubah cara seni rupa kontemporer dipahami, seiring teknologi digital dan perangkat lunak kreatif yang membuat perupa leluasa mengeksplorasi gagasan lewat kanvas layar. Seni digital sebelumnya kerap dianggap sekadar seni konvensional yang dipindahkan ke format piksel, tanpa logika visual dan pengalaman apresiatifnya sendiri. Dalam pergeseran itulah sepasang perupa dari Institut Seni Budaya Indonesia Aceh menempatkan tekad sebagai gagasan utama satu karya digital yang seluruhnya dikerjakan lewat aplikasi Procreate.

Karya itu dibahas Indra Setiawan dan Magfhirah Murni Bintang Permata dalam artikel “Tekad” in Digital Art Creation Practice: Conceptual and Visual Exploration Using Procreate Software, dimuat V-Art: Journal of Fine Art volume 5 nomor 1, tahun 2025. Setiawan berasal dari Program Studi Seni Rupa Murni, sedangkan Permata dari Program Studi Seni Tari, keduanya di Jurusan Seni Pertunjukan dan Seni Rupa Dan Desain, Institut Seni Budaya Indonesia Aceh.

Sebelum dan Sesudah 2022

Wirakesuma dan Mudana, dalam riset tahun 2022 yang dirujuk naskah ini, menunjukkan seni digital berperan penting membentuk bahasa visual baru yang relevan dengan konteks budaya dan teknologi masyarakat kontemporer. Sebelum simpulan itu meluas, seni digital lazim dipahami sebagai sekadar adaptasi seni konvensional ke format digital, seolah medium baru itu hanya alat pemindah, bukan ruang berpikir tersendiri bagi penciptanya.

Naskah Setiawan dan Permata menegaskan posisi yang berbeda dari anggapan lama itu: seni digital, tulis keduanya, bukan lagi sekadar adaptasi seni konvensional ke dalam format digital, melainkan bentuk ekspresi yang memiliki logika visual, estetika, dan pengalaman apresiatif yang khas. Pergeseran cara pandang inilah yang jadi pijakan sebelum keduanya masuk ke penciptaan karya bertema tekad.

Pradita dan Tekad sebagai Gagasan Utama

Riset ini menempatkan tekad, dimaknai sebagai keteguhan hati, kekuatan batin, dan kegigihan manusia menghadapi berbagai tantangan hidup, sebagai gagasan utama yang menuntun seluruh proses penciptaan, mulai perumusan ide hingga visualisasi karya. Nilai itu disebut sangat relevan dengan pengalaman manusia kontemporer yang ditandai tekanan sosial, perubahan cepat, dan tuntutan adaptasi yang terus-menerus.

Klaim itu disandingkan dengan Pradita, Fanani, Latifah, dan Anggraeni dalam riset tahun 2025 yang juga dirujuk naskah ini: seni digital berpotensi besar merepresentasikan pengalaman emosional dan reflektif lewat pendekatan visual yang simbolik dan ekspresif. Karena itu, tulis Setiawan dan Permata, seni digital jadi medium yang relevan untuk mengartikulasikan nilai tekad secara estetis sekaligus konseptual.

Konsep Tekad Menjadi Karya DigitalKonsep Tekad Menjadi Karya DigitalKonsep Tekad Menjadi Karya DigitalProses penciptaan karya digital Tekad di ProcreateKonsepRefleksipersonalSketsaBentuk tank &manusiaWarnaApimerah-oranyeTekadKarya digital,2024Tiga tahap ini disebut naskah sebagai bagian proses realisasi visualkonsep tekad.
Sumber: Indra Setiawan dan Magfhirah Murni Bintang Permata, “Tekad” in Digital Art Creation Practice: Conceptual and Visual Exploration Using Procreate Software, V-Art: Journal of Fine Art, 5(1), 2025. Grafik: Cekricek.id

Tank, Manusia, dan Api yang Menyatu

Karya bertajuk Tekad dibuat di Procreate pada 2024, berdimensi 11638 x 7560 piksel, dengan gaya visual komik atau line art berkontras tinggi. Fokus utamanya sosok manusia berpenutup wajah yang berdiri di atas tank tempur, mengangkat palu godam ke belakang seolah bersiap memukul badan tank, sementara dari punggung dan kepalanya muncul kobaran api merah, oranye, dan kuning, satu-satunya elemen berwarna di tengah dominasi hitam-putih.

Tank, tulis naskah, dipakai sebagai strategi simbolik untuk merepresentasikan kekuatan mekanis yang masif, kaku, dan impersonal, tampil visual sebagai latar belakang yang dominan dan menekan. Penempatan sosok manusia di atas tank adalah strategi komposisi yang sengaja dipilih untuk membalik relasi kuasa, memosisikan manusia sebagai subjek aktif yang melakukan tindakan perlawanan lewat gestur yang menghantam.

Api ditempatkan sebagai aksen visual dan simbolik yang menegaskan pusat emosi dan energi batin sosok manusia. “Api tidak menghancurkan sosok manusia itu, melainkan menyatu dengannya, menandakan bahwa emosi dan tekad adalah sumber kekuatan, bukan penghancuran diri,” tulis Setiawan dan Permata dalam naskahnya, kutipan asli berbahasa Inggris. Kalimat itu menutup penjelasan tentang api sebagai tanda transformasi, bukan kehancuran.

Baca juga Kucing, Jeruk, dan Gambar AI yang Kehilangan Gaya

Max Freeman dan Bold Determination

Untuk menegaskan posisi karyanya, naskah menghadirkan karya digital Bold Determination milik Max Freeman sebagai pembanding, direproduksi sebagai kartu ucapan berukuran 5 x 7 inci di kertas cetak 100 lb. Karya itu menampilkan lukisan abstrak-surealis bergaya Crystal Palace, dengan sosok elang memegang bola kristal bercahaya, dominasi warna merah dan biru, serta ledakan tekstur yang merepresentasikan identitas klub sepak bola Crystal Palace di Liga Premier Inggris.

Dua Karya Bertema TekadDua Karya Bertema TekadDua Karya Bertema TekadKarya pembanding dalam naskah: Indra Setiawan dan Max FreemanTekad, 2024Bold Determination11638x7560px5x7 inciUkuran karyaHitam-putihMerah-biruWarna dominanUniversalIdentitas klubMakna tekadKedua karya sama-sama bertema tekad namun berbeda konteks danpendekatan visual.
Sumber: Indra Setiawan dan Magfhirah Murni Bintang Permata, “Tekad” in Digital Art Creation Practice: Conceptual and Visual Exploration Using Procreate Software, V-Art: Journal of Fine Art, 5(1), 2025. Grafik: Cekricek.id

Kedua karya sama-sama mengusung tema tekad, tetapi berangkat dari konteks yang jauh berbeda. Tekad ciptaan Setiawan dan Permata menafsirkan tekad sebagai kekuatan batin yang lahir dari keyakinan menghadapi keterbatasan, sifatnya universal dan reflektif, sementara Bold Determination memandang tekad dalam konteks olahraga, sebagai semangat kompetitif, loyalitas, dan identitas kolektif satu tim.

Baca juga Karpet Salah Tempat di Pameran Furnitur Bertutur

Rajudin dan Bentuk yang Bermakna

Pendekatan penciptaan Tekad memakai representasi sebagai basis penggambaran, tetapi ditekankan lewat bahasa visual yang minimalis dan simbolik. Naskah menyandingkan pilihan ini dengan Rajudin, Miswar, dan Muler dalam kajian penciptaan bentuk representasional, simbolik, dan abstrak di Sumatera Barat tahun 2020: metode semacam itu tidak sekadar meniru realitas, melainkan membangun bentuk yang menyampaikan gagasan dan makna tertentu, sesuai ide penciptaan karya itu sendiri.

“Representasi visual dapat dipahami sebagai hasil pilihan bentuk yang bermakna, bukan sekadar tiruan visual dari realitas,” tulis Setiawan dan Permata mengacu pada temuan Rajudin dan kawan-kawan, kutipan asli berbahasa Inggris. Prinsip itulah yang menuntun pengolahan garis, bentuk, dan warna pada karya Tekad, dengan garis menegaskan struktur dan karakter visual, bentuk direduksi ke elemen esensial untuk simbolisme dan keterbacaan, sementara warna dipakai selektif memperkuat pusat ekspresi.

Naskah juga menempatkan Procreate bukan sekadar alat teknis, melainkan medium konseptual dalam proses kreatif, sejalan dengan Rosetha dan Ahmad yang tahun 2025 menulis pendekatan practice-based research menempatkan praktik artistik sebagai metode utama mengkaji dan mengembangkan ide konseptual. Ying dan kawan-kawan pada tahun yang sama turut disebut, menunjukkan penerimaan mahasiswa terhadap Procreate dalam pendidikan seni digital dipengaruhi kemudahan pemakaian, fleksibilitas fitur, dan kemampuannya mendukung ekspresi artistik secara optimal.

Naskah bahkan menyandingkan diri dengan kajian lain dari penulis pertamanya sendiri, Setiawan bersama Murni dan Permata tahun 2025, yang menulis keberadaan berbagai makna implisit dalam karya seni selalu direalisasikan secara simbolik. Rangkaian rujukan itu menempatkan Tekad bukan sebagai karya yang berdiri sendiri, melainkan satu titik dalam mata rantai riset tentang bagaimana bentuk, simbol, dan medium digital saling mengisi.

Baca juga Monumen Bundo Kanduang Sijunjung dan Empat Warnanya

Keterbatasan Kajian

Naskah tidak memuat bagian keterbatasan secara formal. Namun penilaian keberhasilan visualisasi tekad berasal dari refleksi dan analisis Setiawan dan Permata sendiri sebagai pencipta karya, bukan dari penilaian pihak luar yang independen terhadap hasil akhirnya.

Objek kajian pun hanya satu karya digital, Tekad, dengan satu karya pembanding, Bold Determination, yang dipilih penulis sendiri secara purposif, bukan lewat sampel acak atau perbandingan sistematis dengan banyak karya seni digital bertema serupa. Temuan soal strategi visualisasi tekad ini karena itu terbatas pada satu proses penciptaan dan satu karya, belum tentu berlaku umum pada praktik seni digital lain di luar konteks ini.

Kejanggalan Naskah

Subbab metode berjudul Preparation of Aplication muncul dua kali dalam naskah, pada bagian IV dan bagian V, dengan ejaan kata Aplication yang konsisten keliru pada keduanya, seharusnya Application. Isi kedua subbab itu juga nyaris identik dengan subbab persiapan alat sebelumnya, sehingga pembaca bisa memeriksa sendiri pengulangan paragraf yang hampir sama persis dua kali dalam satu naskah.

Daftar pustaka naskah turut mencantumkan entri Ying dan kawan-kawan dengan nama jurnal ditulis huruf kapital semua, berbeda dari kapitalisasi judul kalimat biasa yang dipakai pada entri pustaka lain di daftar yang sama. Kejanggalan semacam ini kecil, tetapi tetap bisa diperiksa pembaca langsung pada bagian referensi di akhir naskah aslinya.

Karya Tekad pada akhirnya berdiri di titik pertemuan antara gagasan lama tentang seni digital sebagai sekadar salinan seni konvensional dan gagasan baru yang menempatkannya sebagai bahasa visual tersendiri. Tank, manusia, dan api yang disandingkan dalam satu komposisi menjadi cara Setiawan dan Permata menunjukkan bahwa nilai sehari-hari seperti tekad bisa diteruskan lewat medium yang terus berubah, tanpa kehilangan kedalaman makna yang dikandungnya.

Tag:
Bagikan

Baca Juga

Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang
BMI Anak Gothenburg Terbelah Dua Arah Sejak Tahun 2008
Tanah Ulayat Kayu Tanam Bergeser Jadi Milik Pribadi
Kucing Ditempel dari Tisu dan Majalah, Bukan Dilukis
Rekonstruksi Kreatif Trumpet Padukan Klasik, Melayu, Latin
Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan