Adnan Kapau Gani

Kamus Sejarah Indonesia: Adnan Kapau Gani adalah seorang nasionalis dan pengusaha Indonesia dari Sumatra Barat yang berpendidikan sebagai dokter.

Adnan Kapau Gani. [Istimewa]

Siapa Adnan Kapau Gani?

Adnan Kapau Gani adalah seorang nasionalis dan pengusaha Indonesia dari Sumatra Barat yang berpendidikan sebagai dokter.

Sebelum Perang Dunia II dia membintangi berbagai film romantic semi-nasionalis, seperti film Asmara Murni (1940).

Ia adalah tokoh yang berperan dalam mendirikan PNI di Sumatra. Ia pernah menjabat sebagai menteri Kemakmuran dalam Kabinet Sjahrir III.

Atas prakarsanya pada Januari 1947 dibentuk Planning Board yang bertugas menyusun rencana pembangunan ekonomi.

Planning Board yang langsung dipimpinnya kemudian dikembangkan menjadi Panitia Pemikir Siasat Ekonomi di bawah pimpinan Wakil Presiden Hatta.

Pada masa kabinet Amir Sjarifuddin, Gani tetap menjabat sebagai Menteri Kemakmuran selain menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri. Gani berperan aktif dalam perundingan dengan Belanda yang akhirnya melahirkan Perundingan Linggarjati.

Memimpin Gerilya

Pada masa Agresi Militer Belanda Gani memimpin perjuangan gerilya sebagai Gubernur Militer Daerah Istimewa Sumatra Selatan. Gani pernah menjabat sebagai Menteri Perhubungan dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo I, setelah itu ia diangkat menjadi anggota konstituante sebagai wakil PNI dan akhirnya menjadi anggota MPRS.

Gani mengawali karir politiknya dengan bergabung bersama Partai Indonesia (Partindo). Pasca Partindo bubar pada Mei 1937 ia bersama temannya mendirikan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo).

Ia juga menjadi tokoh yang berperan dalam pembentukan Gabungan Politik Indonesia (Gapi). Gani lahir di Desa Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatra Barat pada 16 September 1905 dan meninggal pada 23 Desember 1968.

Referensi: Kamus Sejarah Indonesia.

Baca Juga

Deretan lampion merah tergantung di bangunan kelenteng
Rayap di Tiang 1771: Klenteng Tertua Semarang Bertahan dari Sumbangan Umat
Hamparan hutan hujan tropis terlihat dari udara
Sejarah Indonesia Masih Jarang Menempatkan Alam sebagai Pelaku
Mushaf Al-Quran terbuka di atas rehal di dalam masjid
Sebelum “Islam, Yes, Partai Islam, No”: Lima Pekan yang Mengubah Nurcholish Madjid
Tumpukan surat kabar lama yang menguning
Iklan yang Menyamar Jadi Berita: Cara Belanda Merayu Kaum Terpelajar ke Lampung
Penari mengenakan busana tradisional Indonesia dalam sebuah pertunjukan
Sepuluh Klaim Budaya dalam Sepuluh Tahun: Bagaimana Indonesia Membalas
Bangunan bergaya kolonial Belanda di kawasan kota tua Jakarta
Dari 17.000 Orang Indo Melarat ke Partai Politik Pertama di Hindia Belanda