Agus Salim

A A

Agus Salim. [Foto: Istimewa]

Siapa Agus Salim?

Agus Salim adalah tokoh Sarekat Islam. Ia bergabung dengan Sarekat Islam pada 1915 sebagai anggota seksi politik dan kepolisian. Agus Salim berperan penting dalam memberikan isi dan warna terhadap gerakan Sarekat Islam.

Dalam perjuangan politiknya, Agus Salim menganut aliran kooperatif, yakni mencapai kemerdekaan dengan bekerja sama dengan pemerintah jajahan.

Agus Salim
Agus Salim. [Foto: Istimewa]

Oleh karena itu, ia bersedia untuk duduk di Dewan Rakyat (Volksraad) menggantikan Tjokroaminoto. Kesempatan ini dipakai untuk mengecam tindakan-tindakan pemerintah yang banyak menyengsarakan rakyat.

Bersama Tjokroaminoto pada 1925 ia menerbitkan harian Fajar Asia di Yogyakarta. Di samping itu ia juga memimpin harian Hindis Baru yang terbit di Jakarta. Berkat tulisan-tulisannya ia diangkat menjadi Sekretaris Umum Muktamar Alam Islam Sedunia cabang Hindia Timur.

Pada 1929 ia diangkat menjadi penasihat teknis delegasi Serikat Buruh Negeri Belanda ke konferensi kaum buruh internasional di Swiss.

Di kalangan pemuda Islam ia juga cukup dikenal, ia pernah diangkat menjadi penasihat Jong Islameten Bond. Ia dilahirkan di Bukittinggi pada 8

Oktober 1884 sebagai seorang anak dari pejabat pemerintah yang juga berasal dari kalangan bangsawan dan agamis. Ia menyelesaikan sekolah dasarnya di HBS Jakarta, kemudian bekerja pada konsulat Belanda di Jeddah antara 1906 sampai 1909.

Setelah kembali ke Jakarta ia kemudian bekerja pada Departemen Pekerjaan Umum. Agus Salim adalah orang yang sangat menentang untuk bekerja sama dengan pemerintah pendudukan Jepang. Menjelang masa akhir zaman Jepang ia diangkat menjadi anggota BPUPKI.

Agus Salim juga tokoh yang duduk dalam Panitia Sembilan dan ikut merancang Undang-Undang Dasar sekaligus sebagai penghalus bahasa bersama Prof. Soepomo dan Husein Djajadiningrat.

Sejak proklamasi kemerdekaan, ia aktif mengambil bagian dalam bidang diplomasi. Ia duduk di dalam Kabinet Parlementer sebagai wakil Menteri Luar Negeri (1946-1947) dan Menteri Luar Negeri (1947).

Kecakapannya dalam diplomasi menonjol pada waktu ia sempat menjabat sebagai Penasihat Perdana Menteri Sutan Sjahrir dalam perundingan dengan wakil Belanda, Van Mook.

Referensi: Kamus Sejarah Indonesia.

Bagikan

Baca Juga

Prabu Siliwangi di Hulu Citarum, Tapa yang Dibaca sebagai Islam
Polahi Gorontalo, Pelarian Pajak Kolonial yang Masih Terpinggir
Wong Kalang dan Samin, Dua Tafsir Asal Usul Orang Bojonegoro
Suku Sakai di Mandau, Sudah Sampai Kampus tapi Belum Sejahtera
Carok Madura, dari Tanah Kapur sampai Pemilihan Kepala Desa
Dari Kerusuhan Suwawa 1849 sampai Perebutan Kekuasaan Gorontalo 1942