Andi Mattalatta

Andi Mattalatta adalah tokoh pejuang kemerdekaan asal Bugis, tokoh olahraga Indonesia terutama dalam olahraga renang, ski air dan tinju. Ia satu-satunya pribumi yang direstui bergabung menjadi anggota Sport Stait Spieren (SSS) yang didirikan untuk anak-anak Belanda.

Andi Mattalatta. [Foto: Istimewa]

Siapa Andi Mattalatta?

Andi Mattalatta adalah tokoh pejuang kemerdekaan asal Bugis, tokoh olahraga Indonesia terutama dalam olahraga renang, ski air dan tinju. Ia satu-satunya pribumi yang direstui bergabung menjadi anggota Sport Stait Spieren (SSS) yang didirikan untuk anak-anak Belanda.

Lahir di Barru, Sulawesi Selatan, 1 September 1920, meninggal di Makassar, 16 Oktober 2004. Pada 1932 ia menyisihkan atlet-atlet keturunan Belanda dalam renang gaya dada memperebutkan piala Ratu Wilhelmina der Nederlanden van Oranje Nassau di Makassar.

Pada 1952, Andi Mattalatta memprakarsai pembangunan Stadion Mattoanging yang dilengkapi gedung olahraga, kolam renang, serta fasilitas olahraga lainnya di Makassar.

Ia juga menjadi tokoh penyelenggara Pekan Olahraga Nasional (PON) IV pada 1957 di Kota Makassar. Pada 1954, ia mendirikan Persatuan Olahraga Perahu Motor dan Ski Air (POPSA) di Makassar dan membangun rumah klub di depan Fort Rotterdam. Ia juga merupakan ayah dari penyanyi Indonesia, Andi Meriem Mattalatta.

Atas jasa-jasanya namanya diabadikan sebagai nama stadion di Makassar. Panglima pertama Komando Daerah Militer Raja Gowa ke-16, dilantik 1 Juni 1957 oleh Kasad Mayjen TNI AH Nasution.

Sebelum meninggal dunia, Andi Mattalatta telah membukukan kisah perjuangannya yang ditulis sendiri setebal 644 halaman berjudul Meniti Siri dan Harga Diri.

Referensi: Kamus Sejarah Indonesia.

Baca Juga

Deretan lampion merah tergantung di bangunan kelenteng
Rayap di Tiang 1771: Klenteng Tertua Semarang Bertahan dari Sumbangan Umat
Hamparan hutan hujan tropis terlihat dari udara
Sejarah Indonesia Masih Jarang Menempatkan Alam sebagai Pelaku
Mushaf Al-Quran terbuka di atas rehal di dalam masjid
Sebelum “Islam, Yes, Partai Islam, No”: Lima Pekan yang Mengubah Nurcholish Madjid
Tumpukan surat kabar lama yang menguning
Iklan yang Menyamar Jadi Berita: Cara Belanda Merayu Kaum Terpelajar ke Lampung
Penari mengenakan busana tradisional Indonesia dalam sebuah pertunjukan
Sepuluh Klaim Budaya dalam Sepuluh Tahun: Bagaimana Indonesia Membalas
Bangunan bergaya kolonial Belanda di kawasan kota tua Jakarta
Dari 17.000 Orang Indo Melarat ke Partai Politik Pertama di Hindia Belanda