Literasi Keuangan Lebih Menentukan daripada Akses Modal

A A

Ilustrasi pedagang cabai dan bawang di sebuah pasar tradisional. [Foto: Pexels]

  • Literasi keuangan berkoefisien jalur 0,412 dengan nilai t 5,774 pada pertumbuhan usaha mikro.
  • Sinergi triple helix berkoefisien 0,310, sedangkan akses modal 0,113 dan tidak nyata.
  • Responden 100 pelaku usaha di Bulukumba dan Bantaeng, 57 di antaranya perempuan.
  • Naskahnya menukar rentang alfa Cronbach dengan rentang keandalan komposit.
Daftar Isi
  1. Seratus Pelaku Usaha di Dua Kabupaten Pesisir
  2. Literasi Keuangan 0,412, Sinergi Triple Helix 0,310
  3. Akses Modal 0,113 dengan Peluang 0,232
  4. Ukuran Alatnya Lolos Seluruh Ambang
  5. Tiga Penyebutan Angka yang Tertukar

Dua dari tiga jalur yang diuji bekerja, dan yang gagal justru jalur yang paling sering diminta pelaku usaha. Literasi keuangan berkoefisien 0,412 dan sinergi triple helix 0,310 terhadap pertumbuhan usaha mikro yang berkelanjutan, sementara akses modal berhenti di 0,113 tanpa lolos uji. Seratus pelaku usaha di dua kabupaten pesisir Sulawesi Selatan yang menjawab kuesionernya.

Pengujian itu ditulis Muh Arif dan Amir dari Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Muslim Indonesia bersama St Salmah Sharon dan Mustika Kusuma Basir dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Ciputra Makassar, dalam artikel The role of triple helix synergy, access to capital, and financial literacy on sustainable MSMEs economic growth di Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan, Volume 27 Nomor 1 tahun 2026, halaman 48–70.

Seratus Pelaku Usaha di Dua Kabupaten Pesisir

Respondennya 100 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di Kabupaten Bulukumba dan Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, dengan pembagian 52 dan 48 orang. Keduanya dipilih penulisnya supaya konteksnya seragam tetapi ciri usahanya tetap beragam. Pemilihan responden memakai teknik purposif dengan dua syarat, dan surveinya diisi langsung atau didampingi agar jawabannya jelas.

Syarat pertama, usahanya sudah berjalan minimal dua tahun. Syarat kedua, yang menjawab adalah pemilik atau pengelola yang terlibat langsung dalam keputusan dan pengelolaan keuangan sehari-hari. Dua syarat itu, kata naskah tersebut, dipakai untuk memastikan responden punya pengetahuan dan pengalaman yang memadai untuk menilai literasi keuangan, akses modal, dan kerja sama dengan pihak luar.

Susunan respondennya berimbang ke sisi perempuan dan usia produktif. Perempuan 57 orang, laki-laki 43 orang. Kelompok usia 31 sampai 45 tahun 47 orang, usia 21 sampai 30 tahun 26 orang, usia 46 sampai 55 tahun 19 orang, dan di atas 55 tahun 8 orang. Berlatar sarjana 40 orang, lulusan sekolah menengah atas 38 orang, diploma 14 orang, dan pascasarjana 8 orang.

Baca juga Industri dan Usaha Kecil Jadi Jalur Kesejahteraan di Gresik

Lama berusaha juga terbagi hampir seimbang: 56 responden sudah berjalan lebih dari lima tahun, 44 responden kurang dari lima tahun. Sektornya bertumpu pada konsumsi warga, dengan perdagangan 38 usaha dan kuliner 30 usaha, disusul jasa kreatif 20 usaha dan industri kecil 12 usaha.

Perdagangan menguasai sektor usaha yang disurvei38 dari 100 usaha, atau 38,0%.Perdagangan menguasai sektor usaha yangdisurveiKuliner 30, jasa kreatif 20, industri kecil 1238 usaha perdagangan (38,0%)62 usaha sektor lainTotal 100 usahaResponden dipilih dengan kriteria usaha berjalan minimal dua tahun danpemilik terlibat langsung dalam pengelolaan keuangan.
Sumber: Arif, Amir, Sharon, dan Basir, The role of triple helix synergy, access to capital, and financial literacy on sustainable MSMEs economic growth, Jurnal Ekonomi & Studi Pembangunan, 27(1), 2026, hlm. 48–70. Grafik: Cekricek.id

Alasan memilih metode itu dinyatakan penulisnya di bagian metode. Partial Least Square dinilai lebih berorientasi prediksi daripada pemodelan berbasis kovarians, lentur terhadap sebaran data, dan tahan pada ukuran sampel yang relatif kecil. Kelenturan itu dianggap cocok untuk riset usaha mikro, yang profil usahanya beragam dan kapasitas pengelolaannya berbeda-beda.

Literasi Keuangan 0,412, Sinergi Triple Helix 0,310

Model diuji dengan Partial Least Square–Structural Equation Modeling lewat perangkat SmartPLS, dan taraf nyatanya ditetapkan penulisnya pada nilai t di atas 1,96 serta peluang di bawah 0,05. Literasi keuangan lolos dua ambang itu sekaligus: koefisien jalurnya 0,412 dengan nilai t 5,774 dan peluang 0,000. Sinergi triple helix menyusul dengan 0,310, nilai t 3,461, dan peluang 0,001.

Tiga jalur menuju pertumbuhan usaha mikro berkelanjutanLiterasi keuangan: Koefisien jalur +0,412; Sinergi triple helix: Koefisien jalur +0,310; Akses modal: Koefisien jalur +0,113.Tiga jalur menuju pertumbuhan usaha mikroberkelanjutan100 pelaku usaha di Bantaeng dan Bulukumba0,10,20,30,40,50Literasi keuangan+0,412Sinergi triple helix+0,310Akses modal+0,113Literasi keuangan dan sinergi triple helix nyata; akses modal tidaknyata dengan peluang 0,232 dan nilai t 1,195.
Sumber: Arif, Amir, Sharon, dan Basir, The role of triple helix synergy, access to capital, and financial literacy on sustainable MSMEs economic growth, Jurnal Ekonomi & Studi Pembangunan, 27(1), 2026, hlm. 48–70. Grafik: Cekricek.id

Isi dua konstruk itu dijelaskan lewat butir pertanyaannya. Literasi keuangan diukur dari kemampuan menyusun anggaran usaha, mencatat transaksi keuangan, memahami laporan keuangan sederhana, dan memisahkan keuangan usaha dari keuangan pribadi. Sinergi triple helix diukur dari dukungan kebijakan pemerintah, pelatihan dan pendampingan kampus, kemitraan dengan sektor swasta, serta kolaborasi ketiganya sekaligus.

Menurut penulisnya, hasil triple helix itu sejalan dengan gagasan bahwa kolaborasi pemerintah, kampus, dan dunia usaha membuka akses teknologi, pelatihan kewirausahaan, dan penguatan sistem inovasi lokal. Untuk literasi keuangan, mereka menyebut pelaku usaha dengan literasi tinggi lebih mampu mengambil keputusan yang rasional, mengelola risiko, dan menaikkan efisiensi operasi.

Penilaiannya berjalan dua tahap. Tahap pertama menguji model pengukuran lewat muatan luar, keandalan komposit, dan varians rata-rata terekstraksi, untuk memastikan tiap butir benar mewakili konstruknya. Tahap kedua menguji hubungan antarkonstruk lewat koefisien jalur, nilai t, dan peluang yang diperoleh dengan prosedur bootstrap.

Akses Modal 0,113 dengan Peluang 0,232

Akses modal bergerak ke arah yang benar tetapi tidak cukup kuat. Koefisiennya 0,113 dengan nilai t 1,195 dan peluang 0,232, keduanya di luar ambang yang ditetapkan penulisnya sendiri. Rata-rata sampel bootstrap-nya 0,111 dengan simpangan baku 0,095, jadi sebaran taksirannya melebar sampai melewati angka nol.

Penafsirannya dinyatakan penulisnya dengan hati-hati. Tambahan akses modal memang dapat menggerakkan kegiatan usaha, tetapi pengaruhnya tidak cukup untuk menaikkan pertumbuhan secara berkelanjutan dalam konteks kajian ini. Modal tanpa keterampilan pengelolaan dan literasi keuangan, kata naskah tersebut, cenderung tidak efektif.

Butir pertanyaan akses modalnya sendiri menyangkut hal yang sangat praktis: akses pada informasi sumber pembiayaan, kemudahan proses pengajuan, kemudahan memenuhi persyaratan, dan keterjangkauan bunga atau biaya pembiayaan. Empat butir itu punya muatan luar 0,822, 0,780, 0,797, dan 0,844, yang berarti keempatnya sah mengukur konstruknya.

Baca juga Uang Elektronik Menaikkan PDRB per Kapita, Dana BPR Tidak

Hasil itu, menurut penulisnya, memperlihatkan tantangan struktural di sektor keuangan: kapasitas pelaku usaha yang terbatas dalam mengelola keuangan sering mengurangi manfaat ekonomi dari modal yang sudah tersedia. Temuan ini mereka nyatakan berbeda dari beberapa kajian sebelumnya yang menemukan pengaruh nyata akses modal pada kinerja usaha mikro.

Ukuran Alatnya Lolos Seluruh Ambang

Sebelum jalur diuji, alat ukurnya diperiksa lebih dulu. Seluruh butir punya muatan luar di atas 0,70, angka terendahnya 0,703 pada butir keberlanjutan usaha dan tertingginya 0,844 pada butir keterjangkauan biaya pembiayaan. Seluruh nilai varians rata-rata terekstraksi juga melewati ambang 0,50, dari 0,544 sampai 0,658.

Nilai keandalannya berdekatan antarkonstruk. Alfa Cronbach sinergi triple helix 0,821 dengan keandalan komposit 0,881, akses modal 0,828 dengan 0,885, literasi keuangan 0,744 dengan 0,838, dan pertumbuhan usaha berkelanjutan 0,729 dengan 0,827. Varians rata-rata terekstraksi tertinggi ada pada akses modal, 0,658, disusul sinergi triple helix, 0,649.

Variabel terikatnya diukur dari empat hal: kenaikan pendapatan usaha, pertambahan jumlah pelanggan, kemampuan menyesuaikan diri dengan perubahan pasar dan teknologi, serta keberlanjutan usaha yang mempertimbangkan sisi ekonomi, sosial, dan lingkungan. Muatan luar keempatnya 0,774, 0,755, 0,718, dan 0,703.

Muatan luar dua konstruk penjelas lainnya berada di rentang yang sama. Sinergi triple helix: dukungan kebijakan pemerintah 0,806, pelatihan dan pendampingan kampus 0,838, kemitraan dengan swasta 0,785, dan kolaborasi ketiganya 0,792. Literasi keuangan: menyusun anggaran 0,736, mencatat transaksi 0,785, memahami laporan sederhana 0,709, dan memisahkan keuangan usaha dari pribadi 0,774.

Tiga Penyebutan Angka yang Tertukar

Naskahnya memuat beberapa penyebutan yang tidak cocok dengan tabelnya sendiri. Rentang alfa Cronbach ditulis 0,729 sampai 0,885, padahal angka tertinggi di kolom itu 0,828; angka 0,885 milik kolom keandalan komposit. Sebaliknya, rentang keandalan komposit ditulis 0,744 sampai 0,885, padahal 0,744 adalah nilai alfa Cronbach literasi keuangan.

Kekeliruan yang sama berlanjut satu kalimat kemudian, ketika nilai 0,885 disebut sebagai alfa Cronbach tertinggi milik akses modal. Di luar itu, tabel model pengukurannya dirujuk sebagai Tabel 1 padahal bernomor Tabel 2, literasi keuangan sekali disebut berkode M meski dimodelkan sebagai variabel bebas ketiga, dan hasil uji hipotesisnya dicetak dua kali dalam dua tabel berbeda dengan angka yang sama.

Batas kajiannya perlu dicatat karena naskahnya tidak memuat bagian keterbatasan tersendiri. Seluruh variabelnya diukur dari penilaian pelaku usaha atas keadaan usahanya, bukan dari catatan pembukuan, dan penulisnya memang menyebut responden dipilih agar dapat memberikan persepsi yang sahih. Datanya juga hanya dari dua kabupaten dengan 100 responden.

Saran kebijakannya menempel pada dua jalur yang nyata. Pemerintah dan lembaga keuangan diminta memperkuat program pemberdayaan usaha mikro yang berbasis literasi keuangan serta kolaborasi inovatif yang sejalan dengan prinsip ekonomi hijau dan transformasi digital. Ketersediaan modal, kata simpulannya, tidak mampu memperkuat keberlanjutan bila tidak diimbangi kapasitas literasi dan kolaborasi kelembagaan.

Dari sisi ekonomi pembangunan, simpulannya menempatkan pertumbuhan sebagai hasil yang tidak hanya bergantung pada faktor modal fisik, tetapi juga pada modal sosial, pengetahuan, dan tata kelola kolaboratif yang memperkuat produktivitas jangka panjang. Pendekatan berdimensi banyak itulah yang penulisnya sebut sebagai arah baru bagi praktik akuntansi pembangunan dan kebijakan publik.

Baca juga Efek Teknologi pada Penyerapan Tenaga Kerja Lewat Investasi

Yang tersisa dari artikel ini adalah jarak antara dua angka pada satu model yang sama: 0,412 untuk kemampuan mengelola uang dan 0,113 untuk kemudahan mendapatkannya. Keduanya diukur pada seratus usaha yang sama, di dua kabupaten yang sama, dalam satu waktu yang sama.

Bagikan

Baca Juga

Likuiditas Menekan Risiko Bank Syariah, Bagi Hasil Menaikkan
Investasi Asing Menambah Tenaga Kerja Hanya di Sumatra
Pariwisata Hijau Lumbung Mataraman Terganjal Prasarana dan SDM
Efisiensi Biaya Produksi Kedelai Lekat dengan Irigasi
Kredit Konsumsi NTT Jadi Penentu Terkuat PDRB Jangka Panjang
Perilaku Hemat Energi Lebih Mungkin di Desa daripada di Kota