Pawiyatan Wanito

Kamus Sejarah Indonesia -

Ilustrasi: Kamus Sejarah Indonesia. [Creator Cekricek.id]

Apa Itu Pawiyatan Wanito?

Pawiyatan Wanito adalah organisasi wanita yang didirikan di Magelang pada 1915. Organisasi ini bertujuan memajukan bidang sosial dan pendidikan kepada kaum wanita, terutama pada kaum ibu.

Pendidikan yang diajarkan terutama dalam hal keahlian, seperti misalnya menjahit, membuat kerajinan, dan sebagainya.

Aktivitas dalam organisasi tersebut merupakan upaya emansipasi gender dalam masyarakat kolonial. Saat itu pandangan tentang gender sangatlah bias dan menomorduakan posisi wanita.

Embrio organisasi-organisasi wanita di Indonesia pada awal abad ke-20 diawali dengan adanya sekolah yang diperuntukkan bagi kaum wanita.

Sekolah yang didirikan Kartini menjadi titik penanda era munculnya gerakan wanita. Setelah pesatnya sekolah-sekolah yang didirikan Kartini, muncul organisasi-organisasi kewanitaan yang bergerak untuk mengembangkan potensi diri dan memajukan derajat wanita.

Salah satunya adalah Pawiyatan Wanito. Selain bertujuan dalam hal memajukan wanita di bidang keahlian, perjuangan sosio-kultural Pawiyatan Wanito bertujuan untuk menangkal pengaruh kebudayaan barat yang tidak sesuai dengan kebudayaan lokal (Jawa).

Salah satu upaya mengungkapkan buah pemikiran tentang wanita yang ideal di masyarakat luas, Pawiyatan Wanito menerbitkan tulisan lewat majalah.

Referensi: Kamus Sejarah Indonesia.

Baca Juga

Ilustrasi balok batu berprasasti dipotret kamera di atas tripod
Sisi Batu yang Tak Pernah Dibaca Akhirnya Terbuka Lewat Fotogrametri
Ilustrasi ruang pertemuan dengan kursi lipat dan meja bermikrofon
Usul Suksesi 1998 Ditolak Tanwir dan Jalan Amien Rais ke PAN
Deretan lampion merah tergantung di bangunan kelenteng
Rayap di Tiang 1771: Klenteng Tertua Semarang Bertahan dari Sumbangan Umat
Hamparan hutan hujan tropis terlihat dari udara
Sejarah Indonesia Masih Jarang Menempatkan Alam sebagai Pelaku
Mushaf Al-Quran terbuka di atas rehal di dalam masjid
Sebelum “Islam, Yes, Partai Islam, No”: Lima Pekan yang Mengubah Nurcholish Madjid
Tumpukan surat kabar lama yang menguning
Iklan yang Menyamar Jadi Berita: Cara Belanda Merayu Kaum Terpelajar ke Lampung