Pengumuman Bersama Ejaan Bahasa Melayu-Indonesia (Melindo) 1961

Kamus Sejarah Indonesia -

Ilustrasi: Kamus Sejarah Indonesia. [Creator Cekricek.id]

Apa Itu Pengumuman Bersama Ejaan Bahasa Melayu-Indonesia (Melindo) 1961?

Pengumuman Bersama Ejaan Bahasa Melayu-Indonesia (Melindo) 1961: Ejaan Bahasa Melayu-Indonesia adalah ejaan bahasa Melayu yang disepakati antara Indonesia dan Malaysia.

Sebagai negara tetangga, Indonesia dan Malaysia (yang dalam kurun waktu 1948-1963 bernama Persekutuan Tanah Melayu) terlibat dalam berbagai perjanjian politik dan budaya, salah satunya mengenai bahasa.

Sebagai bangsa serumpun, Bangsa Indonesia dan Persekutuan Tanah Melayu memiliki bahasa yang hampir sama karena berakar dari bahasa yang sama yaitu bahasa Melayu.

Pada 1959 kedua negara mengadakan sidang untuk menyamakan ejaan bahasa dari kedua negara.

Pada sidang ini utusan dari Indonesia diketuai oleh Slamet Muljana dan utusan Persekutuan Tanah Melayu diketuai oleh Syed Nasir bin Ismail. Sidang tersebut menghasilkan konsep ejaan Melindo (Melayu-Indonesia).

Hasil sidang ini tidak langsung diresmikan dan diumumkan pada saat itu juga. Penundaan terjadi karena keadaan politik kedua negara.

Referensi: Kamus Sejarah Indonesia.

Baca Juga

Mesin ketik manual berwarna krem dengan tuts huruf terlihat jelas, diletakkan di atas meja kayu tua
Ketika Mochtar Lubis Mendorong Indonesia dan Malaysia Menyatukan Ejaan pada 1969
Gunung Marapi terlihat dari Bukittinggi dengan atap rumah warga di latar depan dan awan menggantung di lerengnya
Arsip Kolonial dan Tanda Alam, Dua Sumber yang Belum Dipakai untuk Mitigasi Marapi
Tumpukan koran berusia seratus tahun dengan kertas menguning dan tepi yang sudah robek
Soenting Melajoe, Koran Perempuan Padang yang Menyebut Dirinya Taman
Mulut gua gelap di lereng berbatu yang tertutup lumut tebal dan serasah daun di dalam hutan
Lima Belas Gua Jepang di Bukit Pengklik dan Taktik Bertahan di Balik Lereng
Gedung putih bekas balai kota Batavia dengan atap merah dan menara jam, dilihat dari Lapangan Fatahillah, Kota Tua Jakarta
Air Mancur di Taman Fatahillah dan Jaringan Air Bersih Batavia Abad ke-18
Bangunan utama Candi Sukuh berbentuk piramida terpancung dari batu dengan gerbang di tengah dan arca di halaman
Candi Sukuh, Kuil Majapahit Tanpa Arca Raja di Lereng Lawu