Rasuna Said

Rasuna Said adalah seorang perintis kemerdekaan asal Sumatra Barat yang aktif dalam perjuangan melalui Sarekat Rakyat. Ia juga dikenal aktif dalam Persatuan Muslim Indonesia (PERMI). Rasuna Said dikenal sebagai seorang orator ulung dan kritis. Berkat keberaniannya, ia pernah ditangkap dan dipenjara pada tahun 1932 di Penjara Semarang.

Rasuna Said. [Foto: Istimewa]

Siapa Rasuna Said?

Rasuna Said adalah seorang perintis kemerdekaan asal Sumatra Barat yang aktif dalam perjuangan melalui Sarekat Rakyat. Ia juga dikenal aktif dalam Persatuan Muslim Indonesia (PERMI). Rasuna Said dikenal sebagai seorang orator ulung dan kritis. Berkat keberaniannya, ia pernah ditangkap dan dipenjara pada tahun 1932 di Penjara Semarang.

Selama pendudukan Jepang di Indonesia, Rasuna Said turut serta dalam mendirikan organisasi Pemuda Nippon Raya di Padang. Setelah Proklamasi Kemerdekaan, ia kembali aktif dalam dunia politik. Tercatat ia pernah menduduki beberapa jabatan penting, diantaranya sebagai anggota Dewan Perwakilan Sumatera mewakili Sumatera Barat, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat (DPR RIS), dan anggota Dewan Pertimbangan Agung.

Rasuna Said dilahirkan pada tanggal 14 September 1910 di Maninjau, Sumatra Barat. Ia mengawali karier pendidikannya di Sekolah Desa di Maninjau dan melanjutkan studinya di Madrasah Diniyah Puteri, Padang Panjang. Ia juga pernah belajar secara pribadi kepada Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) dan menempuh pendidikan di Sekolah Thawalib, Maninjau. Pada usia 23 tahun, Rasuna Said menuntut ilmu di Islamic Collage yang dipimpin oleh Muchtar Yahya. Rasuna Said meninggal di Jakarta pada 2 November 1965.

Referensi: Kamus Sejarah Indonesia.

Baca Juga

Deretan lampion merah tergantung di bangunan kelenteng
Rayap di Tiang 1771: Klenteng Tertua Semarang Bertahan dari Sumbangan Umat
Hamparan hutan hujan tropis terlihat dari udara
Sejarah Indonesia Masih Jarang Menempatkan Alam sebagai Pelaku
Mushaf Al-Quran terbuka di atas rehal di dalam masjid
Sebelum “Islam, Yes, Partai Islam, No”: Lima Pekan yang Mengubah Nurcholish Madjid
Tumpukan surat kabar lama yang menguning
Iklan yang Menyamar Jadi Berita: Cara Belanda Merayu Kaum Terpelajar ke Lampung
Penari mengenakan busana tradisional Indonesia dalam sebuah pertunjukan
Sepuluh Klaim Budaya dalam Sepuluh Tahun: Bagaimana Indonesia Membalas
Bangunan bergaya kolonial Belanda di kawasan kota tua Jakarta
Dari 17.000 Orang Indo Melarat ke Partai Politik Pertama di Hindia Belanda