Surastri Karma Trimurti

Surastri Karma Trimurti adalah seorang tokoh pers nasional. Ia lahir pada 11 Mei 1912 di Solo. Sewaktu masih muda, ia pernah menempuh pendidikan di Noormal School dan AMS di Surakarta.

Surastri Karma Trimurti. [Foto: Istimewa]

Siapa Surastri Karma Trimurti?

Surastri Karma Trimurti adalah seorang tokoh pers nasional. Ia lahir pada 11 Mei 1912 di Solo. Sewaktu masih muda, ia pernah menempuh pendidikan di Noormal School dan AMS di Surakarta.

Kemudian di usia yang ke-41, S. K. Trimurti melanjutkan pendidikannya di Jurusan Ekonomi di sebuah perguruan tinggi yang kini dikenal sebagai Universitas Indonesia (UI).

S. K. Trimurti dikenal sebagai tokoh perempuan yang berperan penting dalam perjuangan Indonesia untuk mencapai kemerdekaannya. Wanita ini memulai kariernya sebagai guru SD, namun pada akhirnya ia memilih berkarier di bidang jurnalistik.

Melalui profesi barunya ini Surastri Karma Trimurti Trimurti dikenal sebagai wartawan kritis yang antikolonial.

Oleh karena itu, S. K. Trimurti dipercaya rakyat untuk menyampaikan aspirasi mereka kepada penguasa kolonial yang telah membuat kebijakan merugikan.

Aspirasi-aspirasi dari rakyat itu ia buat dalam tulisan-tulisan yang nantinya diterbitkan oleh surat kabar, seperti Pesat, Genderang, Bedung, dan Pikiran Rakyat.

Setelah Indonesia merdeka, Surastri Karma Trimurti masih tetap menulis namun tak melulu tentang politik. Ia berpendapat bahwa saat itu Indonesia sudah tidak terjajah meskipun negara demokratis yang ia impikan belum sepenuhnya terwujud.

Referensi: Kamus Sejarah Indonesia.

Baca Juga

Ilustrasi batu nisan kuno berukir sulur rapat di kompleks makam tua
Satu-satunya Nisan Bertulis di Lombok Menyebut Angka Tahun 1729
Ilustrasi dua buku terbuka di meja kayu perpustakaan
Guru Besar Bima dan Boyolali di Meja Bedah Metodologi Sejarah
Ilustrasi balok batu berprasasti dipotret kamera di atas tripod
Sisi Batu yang Tak Pernah Dibaca Akhirnya Terbuka Lewat Fotogrametri
Ilustrasi ruang pertemuan dengan kursi lipat dan meja bermikrofon
Usul Suksesi 1998 Ditolak Tanwir dan Jalan Amien Rais ke PAN
Deretan lampion merah tergantung di bangunan kelenteng
Rayap di Tiang 1771: Klenteng Tertua Semarang Bertahan dari Sumbangan Umat
Hamparan hutan hujan tropis terlihat dari udara
Sejarah Indonesia Masih Jarang Menempatkan Alam sebagai Pelaku