Zainuddin Labay El Yunusy

Zainuddin Labay El Yunusy adalah salah satu ulama reformis terkemuka dari Kota Gadang yang mendirikan majalah Al Munir El Manar. Ia lahir di Kanagarian Bukit Surungan, Padangpanjang tahun 1890.

Zainuddin Labay El Yunusy. [Foto: Istimewa]

Siapa Zainuddin Labay El Yunusy?

Zainuddin Labay El Yunusy adalah salah satu ulama reformis terkemuka dari Kota Gadang yang mendirikan majalah Al Munir El Manar. Ia lahir di Kanagarian Bukit Surungan, Padangpanjang tahun 1890.

Sewaktu kecil, ia dididik oleh ayahnya yang juga merupakan ulama ternama di Pandai Sikek, yakni Syaikh Muhammad Yunus.

Selanjutnya, ia belajar ilmu agama dari seorang ulama di Padang Japang yang bernama Haji Abbas. Di sana, ia menjadi anak cerdas sehingga dipercaya sebagai guru bantu. Namun, kondisi itu tidak berlangsung lama sebab terjadi perselisihan antara dia dengan gurunya.

Karena konflik itu, ia kembali ke tanah kelahirannya dan belajar ilmu agama dari Haji Abdul Karim Amrullah.

Zainuddin di mata gurunya merupakan sosok yang luar biasa. Ia banyak belajar sendiri dari buku-buku karangan Mustafa Kamil.

Ia bahkan sering melakukan surat-menyurat dengan tokoh kebangsaan Mesir tersebut.

Sejak itu, telah diketahui bahwa Zainuddin memiliki tulisan dengan bahasa yang bagus dan tajam.

Beberapa tahun kemudian, bakatnya berkembang sempurna seiring dengan profesi barunya, yakni seorang jurnalis.

Ia mengawali kariernya sebagai penulis artikel di majalah Al Munir hingga berlanjut sampai ia menerbitkan majalah sendiri yang diberi nama Al Munir El Manar.

Melalui majalah-majalah yang ia kembangkan, Zainuddin telah berkontribusi dalam kemajuan umat dengan mengupas masalah agama Islam tidak dari satu sudut pandang mazhab.

Pada akhir hayatnya, ia dikenang sebagai ulama yang tidak hanya berdakwah secara lisan, tetapi juga melalui tulisan-tulisan tajam di media cetak yang ia pimpin sendiri.

Referensi: Kamus Sejarah Indonesia.

Baca Juga

Ilustrasi balok batu berprasasti dipotret kamera di atas tripod
Sisi Batu yang Tak Pernah Dibaca Akhirnya Terbuka Lewat Fotogrametri
Ilustrasi ruang pertemuan dengan kursi lipat dan meja bermikrofon
Usul Suksesi 1998 Ditolak Tanwir dan Jalan Amien Rais ke PAN
Deretan lampion merah tergantung di bangunan kelenteng
Rayap di Tiang 1771: Klenteng Tertua Semarang Bertahan dari Sumbangan Umat
Hamparan hutan hujan tropis terlihat dari udara
Sejarah Indonesia Masih Jarang Menempatkan Alam sebagai Pelaku
Mushaf Al-Quran terbuka di atas rehal di dalam masjid
Sebelum “Islam, Yes, Partai Islam, No”: Lima Pekan yang Mengubah Nurcholish Madjid
Tumpukan surat kabar lama yang menguning
Iklan yang Menyamar Jadi Berita: Cara Belanda Merayu Kaum Terpelajar ke Lampung