- Penyimpanan gas alam Uni Eropa hanya terisi 72 persen, turun dari biasanya 90 persen.
- Kepala IEA Fatih Birol memperingatkan harga gas di Eropa bisa naik bila musim dingin keras.
- Harga gas melonjak 140 persen sejak Februari, dan minyak Brent diperdagangkan jauh di atas 100 dolar AS.
- Uni Eropa masih memiliki sekitar 80 persen stok darurat energinya.
Cekricek.id — Cadangan gas Eropa berada di titik terendah sepanjang sejarah saat benua itu memasuki musim dingin, dan Eropa tidak mampu menahan guncangan pasokan berikutnya, kata Kepala Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol.
Birol berbicara di sela konferensi internasional di Berlin, Jerman, pada Rabu (21/10/2026), sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Jumat (23/10/2026). Menurut dia, semua kawasan terdampak gangguan energi di Selat Hormuz akibat perang AS-Israel melawan Iran, tetapi Eropa paling rentan dan kemungkinan menghadapi kenaikan harga gas alam cair (LNG) dalam beberapa bulan mendatang, sekalipun perdamaian kembali ke Teluk hari ini.
“Hari terbaik untuk gencatan senjata adalah kemarin,” kata Birol.
“Biasanya sebelum musim dingin, negara-negara Eropa memiliki banyak stok gas, tetapi stok gas yang kita miliki saat memasuki musim dingin ini jauh lebih rendah dari rata-rata historis,” ujarnya. Ia menambahkan, gas Eropa bersaing dengan negara-negara Asia yang lebih bergantung pada Timur Tengah.
“Saya kira jika musim dingin keras, kita mungkin melihat harga gas alam yang lebih tinggi di Eropa,” kata Birol. “Hidup tidak akan mudah bagi Eropa tahun ini dan juga tahun depan.”
Penyimpanan gas alam Uni Eropa kini hanya terisi 72 persen, turun dari biasanya 90 persen. Menurut para analis, kekurangan itu setara dengan energi untuk 10 hingga 12 juta rumah. Sebelum perang, hampir sepersepuluh LNG Eropa melintasi Selat Hormuz, dan serangan Iran ke kapal-kapal membuat impor anjlok.
Menurut sejumlah laporan, para menteri energi Uni Eropa kini menimbang apakah akan meminta rumah tangga dan pelaku usaha menghemat konsumsi.
Birol kecewa pemerintah terlambat bertindak
Birol mengaku telah lama memikirkan bahaya ketergantungan pada Selat Hormuz. Gejolak di Selat Bab al-Mandeb sebagai jalur alternatif, katanya, ikut memperburuk keadaan.
“Saya sangat kecewa pemerintah tidak mengambil langkah yang diperlukan. Sekarang semua orang terburu-buru mengambil langkah, negara-negara Timur Tengah membangun pipa baru dan memperluas pipa yang memintas Selat Hormuz, tetapi menurut saya upaya ini seharusnya dilakukan jauh lebih awal,” ujarnya.
Uni Eropa juga menghadapi kekurangan produk olahan impor seperti solar. Menurut Birol, serangan Ukraina ke kilang minyak Rusia ikut memicu ancaman kelangkaan solar, dengan sekitar sepertiga pasokan Rusia berhenti datang.
Harga kembali naik. Harga gas melonjak 140 persen sejak Februari, dan minyak Brent diperdagangkan jauh di atas 100 dolar AS.
“Saya belum pernah melihat bayang-bayang geopolitik yang gelap dan panjang begitu dominan di sektor energi,” kata Birol. “Energi saat ini tidak dianggap sebagai bisnis, melainkan alat tekanan politik. Sebagai orang energi, hal ini membuat saya khawatir.”
Uni Eropa masih memiliki sekitar 80 persen stok daruratnya. “Saya sangat berharap kedua selat itu segera dibuka tanpa syarat. Jika tidak, di dunia energi kita tidak punya banyak lagi zona penyangga untuk menjaga harga di level seperti sekarang,” kata Birol.















