Kolombia Minta Trump Tunda Tarif Usai Gempa Tewaskan 294

Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella dalam foto arsip.

Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella dalam foto arsip. [Foto: Esteban Vega La-Rotta/AFP via Al Jazeera]

Cekricek.id — Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella meminta Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunda sementara pemberlakuan tarif atas produk Kolombia. Permintaan itu disampaikan saat negaranya menghadapi beban rekonstruksi besar setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,4 menewaskan sedikitnya 294 orang.

Dikutip dari Al Jazeera, aljazeera.com, Sabtu (15/8/2026), de la Espriella menggambarkan percakapannya dengan Trump berlangsung sangat bersahabat dan penuh kehangatan. Dalam pembicaraan itu ia menjelaskan skala persoalan yang kini dihadapi Bogota.

“Saya mengatakan kepadanya bahwa kami memiliki tantangan besar di depan mata: membangun kembali Kolombia di tengah situasi ekonomi yang teramat sulit dan apokaliptik,” kata Abelardo de la Espriella.

Baca juga: AS Kenakan Tarif hingga 100 Persen bagi Drone Impor, Uni Eropa Dibatasi 15 Persen

Beban Rekonstruksi 6,4 Miliar Dolar

Biaya pemulihan pascagempa diperkirakan mencapai sekitar 6,4 miliar dolar Amerika Serikat. Angka tersebut menjadi tekanan fiskal berat bagi Kolombia yang pada saat bersamaan menghadapi kenaikan hambatan dagang dari mitra ekspor terbesarnya.

Amerika Serikat menaikkan tarif atas produk Kolombia dari 10 persen menjadi 12,5 persen pada akhir Juli lalu, dengan pengecualian untuk kopi dan minyak. Kenaikan itu berlaku hanya beberapa pekan sebelum gempa mengguncang negeri tersebut. Amerika Serikat sendiri masih menjadi pasar ekspor utama Kolombia, sehingga setiap perubahan tarif langsung terasa pada penerimaan devisa Bogota.

Menteri Keuangan Kolombia Miguel Gomez menyatakan pemerintah belum mempertimbangkan kenaikan pajak untuk mendanai rekonstruksi. Sikap itu memperjelas mengapa keringanan tarif dari Washington menjadi salah satu jalur yang paling agresif ditempuh Bogota: ruang fiskal domestik dinilai belum akan dibuka lewat instrumen pajak baru.

Diplomasi Bencana di Tengah Perang Tarif

Permintaan penundaan tarif menempatkan bencana alam sebagai argumen diplomasi dagang. Kolombia tidak meminta penghapusan permanen, melainkan penangguhan sementara agar arus ekspornya tidak tertekan pada masa pemulihan. Pendekatan itu memberi ruang bagi Washington untuk memberi konsesi tanpa membongkar kerangka kebijakan tarifnya secara keseluruhan.

Baca juga: Gedung Putih Tuding 40 Negara Bantu China Kelabui Tarif, Indonesia Disebut

Nada percakapan yang digambarkan de la Espriella sebagai bersahabat juga bernilai politis. Hubungan Bogota dan Washington dalam beberapa tahun terakhir kerap diwarnai gesekan, sehingga sebuah pembicaraan yang berjalan hangat merupakan sinyal bahwa saluran diplomatik masih terbuka lebar.

Sampai laporan ini diturunkan, Al Jazeera tidak mencatat adanya keputusan resmi dari Gedung Putih atas permintaan tersebut. Nasib tarif 12,5 persen atas produk Kolombia karena itu masih menggantung, sementara kebutuhan pendanaan rekonstruksi berjalan tanpa menunggu.

Gempa magnitudo 7,4 yang mengguncang Kolombia pada Senin pekan lalu tercatat sebagai salah satu bencana paling mematikan yang menimpa negara itu dalam beberapa dekade terakhir. Jumlah korban tewas yang menembus 294 orang terus diperbarui aparat seiring pendataan di daerah terdampak, sementara kerusakan infrastruktur menjadi dasar penghitungan kebutuhan rekonstruksi yang disebut mencapai 6,4 miliar dolar Amerika Serikat.

Baca juga: Penjualan Ritel AS Anjlok 0,6 Persen di Juli, Keyakinan Konsumen Merosot

Bagi Kolombia, kombinasi antara guncangan gempa dan tekanan tarif menciptakan persoalan berlapis. Rekonstruksi menuntut belanja negara yang besar, sementara sumber utama pemasukan devisa justru sedang menghadapi hambatan masuk ke pasar terbesarnya. Kopi dan minyak yang dikecualikan dari kenaikan tarif memang meredam sebagian dampak, namun tidak menutup seluruh eksposur ekspor negara itu terhadap kebijakan dagang Amerika Serikat.

Baca Juga

Ilustrasi batangan emas.
Permintaan Emas Global Naik, HPE Emas Agustus Ikut Terkerek
Ilustrasi lini produksi industri plastik.
KADI Selidiki Dumping Polimer Penyerap Super Asal Tiongkok
Ilustrasi evakuasi gempa
Korban Tewas Gempa Kolombia Tembus 288, Operasi Beralih ke Pemulihan
Ilustrasi aktivitas belanja ritel
Penjualan Ritel AS Anjlok 0,6 Persen di Juli, Keyakinan Konsumen Merosot
Kapal kargo melintasi jalur pelayaran
Maersk dan Hapag-Lloyd Kembalikan Layanan AE19 ke Terusan Suez
Peti kemas menumpuk di dermaga sebuah pelabuhan
Gedung Putih Tuding 40 Negara Bantu China Kelabui Tarif, Indonesia Disebut