K.H. Zainul Arifin

K.H. Zainal Arifin adalah Wakil Perdana Menteri II wakil NU pada Kabinet Ali Sastroamijoyo. Laki-laki berdarah Batak ini lahir di Barus, Tapanuli, Sumatera Utara pada 1909. Dengan latar belakang pesantren, ia memutuskan untuk pergi ke Jakarta dan bekerja di sana.

K.H. Zainal Arifin. [Foto: Istimewa]

Siapa K.H. Zainul Arifin?

K.H. Zainal Arifin adalah Wakil Perdana Menteri II wakil NU pada Kabinet Ali Sastroamijoyo. Laki-laki berdarah Batak ini lahir di Barus, Tapanuli, Sumatera Utara pada 1909. Dengan latar belakang pesantren, ia memutuskan untuk pergi ke Jakarta dan bekerja di sana.

Ia juga dikenal aktif berorganisasi dan bergabung dengan organisasi Nahdatul Ulama (NU) cabang Jakarta. Mulai saat itulah namanya mulai dikenal.

Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, terjadi pembatasan organisasi Islam, yang ditandai dengan pembubaran MIAI pada Oktober 1943 oleh pemerintah pendudukan Jepang dan digantikan dengan.

Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), yang merupakan sebuah organisasi gabungan dari perkumpulan-perkumpulan Islam, dengan Zainal Arifin yang menjadi Kepala Bagian Umum.

Selain Masyumi, Zainal Arifin juga menjadi pemimpin dari salah satu organisasi bentukan Jepang, Hizbullah.

Pasca pengakuan kedaulatan oleh Belanda, Zainal Arifin ditunjuk oleh Presiden Sukarno menjadi anggota DPRS sampai dengan Juli 1953.

Dan ketika pemerintahan berada di bawah kekuasaan Kabinet Ali Sastroamijoyo, Zainal Arifin diangkat menjadi Wakil Perdana Menteri II, sebagai wakil NU.

Referensi: Kamus Sejarah Indonesia.

Baca Juga

Ilustrasi balok batu berprasasti dipotret kamera di atas tripod
Sisi Batu yang Tak Pernah Dibaca Akhirnya Terbuka Lewat Fotogrametri
Ilustrasi ruang pertemuan dengan kursi lipat dan meja bermikrofon
Usul Suksesi 1998 Ditolak Tanwir dan Jalan Amien Rais ke PAN
Deretan lampion merah tergantung di bangunan kelenteng
Rayap di Tiang 1771: Klenteng Tertua Semarang Bertahan dari Sumbangan Umat
Hamparan hutan hujan tropis terlihat dari udara
Sejarah Indonesia Masih Jarang Menempatkan Alam sebagai Pelaku
Mushaf Al-Quran terbuka di atas rehal di dalam masjid
Sebelum “Islam, Yes, Partai Islam, No”: Lima Pekan yang Mengubah Nurcholish Madjid
Tumpukan surat kabar lama yang menguning
Iklan yang Menyamar Jadi Berita: Cara Belanda Merayu Kaum Terpelajar ke Lampung