Maskoen Soemadiredja

Maskoen Soemadiredja

Maskoen Soemadiredja. [Foto: Istimwa]

Siapa Maskoen Soemadiredja?

Maskoen Soemadiredja adalah pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Jawa Barat. Maskoen lahir di Bandung, Jawa Barat pada 25 Mei 1907. Ia merupakan putra dari Raden Umar Soemadiredja dan Nyi Raden Umi.

Sejak 1927, ia sudah aktif dalam pergerakan politik untuk berjuang mewujudkan kemerdekaan negara Indonesia.

Karena itu ia bergabung dengan Partai Nasional Indonesia (PNI) yang dipimpin oleh Ir. Sukarno.

Ia memegang jabatan sebagai komisaris merangkap sebagai sekretaris II PNI cabang Bandung. Ia sering melakukan propaganda dengan menyebarkan prinsip-prinsip nasionalisme dan menggugah semangat rakyat untuk memperjuangkan kemerdekaan.

Aktivitasnya mendapat tanggapan dari Pemerintah Kolonial. Berlandaskan tuduhan mengganggu ketertiban umum, Pemerintah Kolonial menangkap dan memenjarakan Maskoen ke Boven Digul, Papua.

Ia bebas pada masa pendudukan Jepang, lalu dibawa pergi ke Australia oleh tentara Belanda.

Saat Proklamasi kemerdekaan RI, Maskoen bersama rekannya menyebarkan pamflet Proklamasi Kemerdekaan melalui Komite Indonesia Merdeka yang didirikannya.

Bulan Februari 1946, ia menolak pulang ke Indonesia karena Belanda tidak mengakui kemerdekaan Indonesia. Pada akhirnya pemerintah Australia berhasil memulangkan Maskoen.

Ia pernah menjabat ketua umum Persatuan Perintis Perjuangan. Ia wafat di Jakarta pada 4 Januari 1986.

Referensi: Kamus Sejarah Indonesia.

Baca Juga

Ilustrasi tumpukan manuskrip menguning tersimpan di lemari kaca kayu berukir
Naskah Kuno Palembang Dirawat dengan Tembakau dan Kapur Barus
Ilustrasi bangunan rumah sakit bergaya Indis di tepi jalan lengang
Stasiun 819 Meter, Alasan Rumah Sakit Petronella Dibangun di Pinggir Kota
Ilustrasi sisa gerbang batu bekas istana Melayu di tepi jalan dikelilingi rumah baru
Istana Kesultanan Serdang Jadi Perumahan, Koordinatnya Meleset 10 Km
Ilustrasi tumpukan koran berbahasa Melayu ejaan lama era 1920-an di atas meja kayu
Ketika Haji Merah Menyerang Muhammadiyah dari Mimbar dan Koran
Ilustrasi batu nisan kuno berukir sulur rapat di kompleks makam tua
Satu-satunya Nisan Bertulis di Lombok Menyebut Angka Tahun 1729
Ilustrasi dua buku terbuka di meja kayu perpustakaan
Guru Besar Bima dan Boyolali di Meja Bedah Metodologi Sejarah