Zainal Sabaruddin Nasution

Kamus Sejarah Indonesia -

Ilustrasi: Kamus Sejarah Indonesia. [Creator Cekricek.id]

Siapa Zainal Sabaruddin Nasution?

Zainal Sabaruddin Nasution adalah seorang komandan Polisi Tentara Keamanan Rakyat Karesidenan Surabaya. Pria yang dikenal dengan Mayor Sabaruddin lahir di Kotaraja, Aceh, pada 1922.

Sabaruddin berhasil menyelesaikan pendidikannya di sebuah Sekolah Menengah Pertama atau MULO. Setelah lulus dari sana, Sabaruddin berkarier sebagai jurutulis di kantor Kabupaten Sidoarjo dan sebagai pemegang buku suatu perkebunan tebu.

Pria berdarah Sumatera ini pun tercatat pernah tergabung dalam PETA. Karena memiliki pengalaman sebagai tentara pada masa penjajahan Jepang, usai proklamasi Sabaruddin diangkat sebagai komandan Polisi Tentara Keamanan Rakyat (PTKR) karesidenan Surabaya.

Sejak saat itu Sabaruddin dikenal sebagai seseorang yang brutal. Ia pernah mendekam di penjara karena namanya tercatat sebagai pelaku utama kasus penculikan seorang Bendahara BKR Jawa Timur, yakni Mayjen Mohammad Mangoendiprodjo.

Setelah bebas, Sabaruddin dipercaya untuk menumpas gerombolan peristiwa PKI Madiun 1948 namun yang terjadi adalah sebuah pembelotan.

Ia justru malah tergabung dalam pasukan Tan Malaka. Sabaruddin pun menjadi buron hingga pada akhirnya ia ditangkap dan dieksekusi.

Referensi: Kamus Sejarah Indonesia.

Baca Juga

Ilustrasi balok batu berprasasti dipotret kamera di atas tripod
Sisi Batu yang Tak Pernah Dibaca Akhirnya Terbuka Lewat Fotogrametri
Ilustrasi ruang pertemuan dengan kursi lipat dan meja bermikrofon
Usul Suksesi 1998 Ditolak Tanwir dan Jalan Amien Rais ke PAN
Deretan lampion merah tergantung di bangunan kelenteng
Rayap di Tiang 1771: Klenteng Tertua Semarang Bertahan dari Sumbangan Umat
Hamparan hutan hujan tropis terlihat dari udara
Sejarah Indonesia Masih Jarang Menempatkan Alam sebagai Pelaku
Mushaf Al-Quran terbuka di atas rehal di dalam masjid
Sebelum “Islam, Yes, Partai Islam, No”: Lima Pekan yang Mengubah Nurcholish Madjid
Tumpukan surat kabar lama yang menguning
Iklan yang Menyamar Jadi Berita: Cara Belanda Merayu Kaum Terpelajar ke Lampung